Keesokan harinya, Yu Leha menelepon Karsono, atas saran Cak Toyo. Ia mengatakan kepada adiknya, bahwa ibunya mengingat sapi yang pernah dijual untuk biaya merantau ke Ibu Kota.
“Ah, masak sih, Yu?” Karsono seperti tidak percaya dengan perkataan Yu Leha.
“Bener! Apa kamu mau omong langsung sama Emak?” Yu Leha menawarkan.
“Ndak usah, Yu! Aku masih banyak urusan. Yo wes, minggu depan aku transfer uang untuk membeli sapi.”
Tak lama, pembicaraan itu pun terputus.
***
Selama beberapa tahun tinggal di kota, penampilan dan sikap Karsono memang sedikit berubah. Tidak seperti ketika masih tinggal di desa dan bekerja di pertanian tembakau milik PTPN. Dekil, hitam, dan tubuhnya bau lumpur. Kampungan. Sejak menjadi mandor proyek penggalian tanah dan penanaman kabel optik milik perusahaan komunikasi, semua yang melekat di tubuhnya serba bermerek. Dari jam tangan, topi, kemeja, kaos berkerah, celana, rata-rata merek terkenal. Ketika pulang kampung menjelang lebaran, lelaki yang masih bujang itu mengendarai Fortuner. Sehingga, menjadi pusat perhatian warga kampung.
Karsono juga semakin jarang bersosial dengan tetangga sekitar rumahnya. Seakan tidak punya waktu lagi untuk cangkruk di pos ronda, main catur hingga larut dengan Lik Jo dan Mat Alung, seperti dulu. Ke mana-mana selalu membawa telepon genggam keluaran terbaru. Sedikit-sedikit, telepon genggam itu mendering. Pembicaraan di telepon genggam itu kadang berlangsung lama. Apalagi jika masuk ke obrolan angka-angka. Tak segan Karsono meninggalkan teman-temannya sendiri di ruang tamu.
Yu Leha juga sering mengingatkan Karsono akan sikapnya. Tapi, akhirnya malas juga. Sebab, setiap kali diingatkan, Karsono pasti akan menjawab, ”Tahu apa kamu Yu, dengan kehidupanku!”
Makanya, jika tidak benar-benar dalam keadaan mendesak, Yu Leha sebenarnya tidak mau mengganggu adiknya yang super sibuk. Kalau tidak atas saran Cak Toyo, anak sulung Mak Tum yang sedang berada di Kalimantan, tidak mungkin Yu Leha mau berembuk dengan Karsono, untuk membelikan ibunya seekor sapi. Toh, Karsono-lah yang menjual kedua sapi Mak Tum. Jadi, Yu Leha sedikit memberanikan diri untuk berembuk dengan adiknya.
***