Sapi Betina dan Sungai Susu

Sesuai waktu yang dijanjikan, Yu Leha menerima kiriman uang dari Karsono, yang dikirim melalui rekening Lik Jo. Maka, keesokan harinya, Yu Leha meminta Paino untuk pergi ke Pasar Sabtuan, untuk membeli seekor sapi. “Jangan lupa, cari yang betina, ya, Mas! Yang babon!” Yu Leha kembali mengingatkan.

Sementara di rumah, Yu Leha meminta tolong kepada Lik Jo dan Mat Alung untuk membuatkan kandang baru, di belakang rumah. Mereka pun memugar beberapa pohon bambu milik Yu Leha yang berada di dekat sungai. Kemudian segera membuatkan sebuah kandang, yang cukup bahkan untuk tiga ekor sapi.

Rasan-rasan bahkan sampai juga ke telinga beberapa orang yang tinggal di kampung itu. Kabar Mak Tum yang minta dibelikan sapi, menjadi fokus pembicaraan di banyak tempat. Di pasar. Kios penjual sayur. Kios rokok. Pos ronda. Pengajian kifayah. Pengajian muslimat. Orang-orang kampung banyak membicarakan Mak Tum. Sebagian ada yang nyinyir. Sebagian lagi ada yang merasa kasihan.

“Kalau sudah begitu, kasihan Yu Leha,” kata seseorang di sebuah kios tukang sayur.

“Biarin saja. Mungkin kualat karena tingkah Karsono,” timpal yang lain.

“Husss! Ora elok, nyumpahin orang sakit!”

“Padahal kan Mak Tum rabun, ya!”

“Kena katarak!”

“Bener. Masa orang rabun pengen lihat sapi.”

“Kesambet, mungkin!”

“Untung Yu Leha sabar.”

“Cak Toyo juga nggak pulang-pulang.”

“Tapi aku mau besanan sama Mak Tum.”

“Husss!”

“…”

Kasak-kusuk di luar, sampai juga ke telinga Yu Leha. Benar juga kata tetangga. Mana mungkin ibunya yang rabun ingin melihat sapi. Seperti anak kecil. Dan yang membuat Yu Leha semakin geregetan, setelah Mak Tum mendapatkan sapi yang diinginkannya, tidak sekalipun perempuan tua itu pergi ke kandang untuk melihat sapinya. Malah suatu malam, Yu Leha kembali mendengar Mak Tum menangis tersedu.

“Kok masih nangis, Mak! Kan sudah dibelikan sapi,” tanya Yu Leha, heran.

“Aku pengen melihat sungai. Susu!” jawab Mak Tum, sambil tersedu.

Arsip Cerpen di Indonesia