Sapi Betina dan Sungai Susu

“Pulanglah. Jika Mak Tum sudah sembuh, dan bisa melihat lagi, ia tidak akan minta yang aneh-aneh.” Pernyataan Kiai Sadik, benar-benar membuat Yu Leha bingung.

“Maksud Kiai?”

Kiai Sadik hanya tersenyum dan meminta Mak Tum kembali, jika penglihatannya belum pulih. Kemudian memanggil pasien yang lain, dan kembali ke ruang praktiknya. Hatinya masih terenyuh, karena sapi betina dan sungai susu yang ingin dilihat oleh pasiennya, terang-terang tertulis dalam kitab suci. (*)

 

Ali Ibnu Anwar, lahir di Jember 1986. Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Karya-karyanya tersiar di berbagai media dan sejumlah antologi bersama, di antaranya antologi puisi “Rumah Ingatan” (Pustaka Ranggon, 2018), antologi puisi “Senyuman Lembah Ijen” (Taresi, 2018), antologi cerpen “Cerita yang Belum Selesai” (Pustaka Ranggon, 2015), dan antologi cerpen “Risalah dari Lembah Imaji” (Pustaka Ranggon, 2018). Penggagas dan bergiat di Komunitas Ranggon Sastra, Jakarta. Kini tinggal di Jember, sebagai petani.

Arsip Cerpen di Indonesia