Maka, sebagaimana pintanya, kami mengizinkan ia tinggal bersama kami. Atas persetujuan bersama, warga menyetujui ia tinggal di rumah kami. Ayah yang dituakan di kampung kami akhirnya menerima ia menjadi bagian dari keluarga. Begitulah ia menjadi dekat dengan saya.
Malam pertama kedatangannya di rumah, kami menjamunya dengan makanan yang saya tangkap dari laut. Warga turut membantu. Warga tidak menyadari, malam itu, ia melewatkan begitu saja makanan yang berhubungan dengan laut. Ia tidak mencomot secuil pun ikan panggang, tidak menciduk sama sekali kima lawar, membiarkan daging bulu babi yang ditumis ibu.
Malam itu ia menyadari saya memperhatikannya. Mungkin ia tahu bahwa saya tidak suka jika orang tidak menghargai apa yang telah disiapkan dengan susah payah. Ia hanya menatap saya sekilas lantas bergabung dengan ibu-ibu di dapur.
“Laut membutuhkan seseorang agar tetap memberikan kelimpahan.” Suatu hari ia berujar begitu saja. Nada suaranya terdengar lirih. Saya menyadari ada perubahan terjadi. Laut tiba-tiba bergemuruh. Angin menyisir sepanjang garis pantai, menerpa kami.
“Apa maksud kamu?”
“Ikan-ikan menyusut jauh. Terumbu karang rusak. Bagaimana ikan bisa hidup jika tiap hari laut dicemari dengan sampah-sampah? Bagaimana ikan bisa jinak jika bom-bom terus diledakkan?” Suaranya lirih dan getir.
Saya menangkap kehampaan dalam matanya. Seembus angin kembali berdesir, terdengar getir sepanjang pesisir. Percakapan pagi itu berakhir begitu saja manakala bibir pantai mulai ramai.
Saban malam, ia berkisah pada saya sebuah cerita. Kisahnya, nenek moyang kami sangat pandai membaca gelagat laut. Mereka tidak takut pada kematian karena laut adalah sahabat yang bisa diajak kompromi. Nenek moyang tahu bagaimana menyenangkan laut, yaitu, setiap beberapa purnama mereka melakukan ritual-ritual. Dulu, kisahnya lanjut, mereka menutup laut-tidak menangkap ikan selama beberapa bulan. Biasanya mulai dari November hingga Maret. Bagi warga yang kedapatan akan dikenakan sanksi berupa memberi makan warga sekampung. Yang melanggar akan menyiapkan seekor babi, beberapa karung beras dan arak. Masih dengan nada semangat ia melanjutkan: Mereka tahu apa yang pantas diambil dan mana bagian yang bukan untuk mereka.