Pada hari yang lain, ia menuturkan kepada saya perihal kerinduan dan harapan-harapannya. Ia ingin melihat laut yang berkelimpahan ikan. Ingin menyaksikan sekeriap ikan leluasa berselusup di antara terumbu karang. Tidak ingin mendengar ledakan bom. Tidak ingin melihat warga menangkap ikan dengan jaring harimau. Tentang keinginannya melihat laut bersih dari sampah-sampah.
Begitulah, harapan-harapan yang ia tuturkan itu membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang. Malam-malam yang larut, ketika semua warga terlelap, saya sering mendengar lengking samudra seperti merepihkan tangis yang paling nelangsa. Dari dalam laut, telinga saya kerap menangkap suara yang memanggil nama saya dengan nada dan irama yang ritmis, menggetarkan. Suara itu terdengar begitu halus dan lembut, bagai berasal dari bibir seorang wanita yang kehilangan anak semata wayang. Suara itu timbul-tenggelam di antara ombak kecil yang mengempas pantai.
Ada seorang wanita yang selalu menunggu kita lelaki pesisir untuk bercinta dengannya di dalam laut, saya terkenang dengan kisah Koli tujuh tahun lalu. Lanjutnya, saya pernah bercinta dengan wanita itu. Beberapa bulan kemudian, Koli, si penyelam itu, mati tenggelam dalam laut. Setelah dilakukan ritual, tiga hari kemudian tubuhnya mengambang. Tubuhnya melebam dan pada lehernya tampak seperti bekas tali yang diikat paksa. Lidahnya yang menjulur semakin menguatkan kesimpulan kami bahwa lehernya memang diikat. Ayah kemudian mengatakan kepada saya bahwa Ibu Laut murka.
Saya membayangkan wanita yang menangis itu. Apa tubuhnya koyak karena kena ledakan bom? Bayangan saya kemudian jatuh pada pukat harimau milik saya. Apa ia pernah tersangkut di sana dan, barangkali, salah satu jarinya putus? Apa tujuannya malam-malam begini ia menangis? Saya sangat terganggu. Saya mengambil bantal dan menutup telinga. Malam itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk membutakan mata dan menulikan telinga.
***
Beberapa bulan bersama kami, setelah beradaptasi, ia mulai memberi petuah. Katanya, kami salah dalam menangkap ikan.
“Menangkap ikan yang baik itu mestinya tetap menjaga apa yang diajarkan nenek moyang,” ujarnya. Tentu, perkataannya membuat sejumlah kami tersenyum. Beberapa di antara yang sedang memperbaiki pukat mengangguk-angguk. Kami yang tersenyum tentu sekali tidak menyetujui perkataannya. Kami tahu bagaimana kerasnya mengarungi laut. Kami menangkap banyak karena banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi.