Bagi warga, ia adalah berkah. Tapi, bagi saya, ia adalah petaka. Saya hanya bisa menunggu sampai kapan warga mengangkat saya dari tempat ini atau mereka akan diam-diam saja, menganggap kematian ini sebagai persembahan kepada laut atas kelalaian kami selama ini. Dugaan saya tentang dirinya ternyata tidak salah. Ia telah menjelma ke wujud asalnya, menjadi seekor gurita-Harin Botan, si penjaga sekeriap kehidupan dalam laut, ibu dari semua yang hidup dalam laut.
Pada hari kelima, perut saya meledak. Tidak ada ikan-ikan yang mendekat. Tubuh saya yang berkeping-keping itu, satu per satu berubah menjadi sewujud ikan yang berenang dengan gesit ke arah pesisir.
Waimana, 1 Agustus 2018.
Jemmy Piran, lahir di Sabah-Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Cerpen-cerpennya tersiar di beberapa media. Buku kumpulan cerpen eksperimental yang sudah terbit berjudul Obituari Sebutir Telur, Seekor Ayam, dan Babi (Basabasi, 2018) dan sebuah novelnya akan terbit berjudul Dalam Pelukan Rahim Tanah. Kini, ia menetap di Waimana 1, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.