Pemanggil Kematian

“Suatu saat, ikan akan habis karena rumah-rumah mereka rusak. Desing mesin ketinting dan bom yang mendebum di dasar laut menciptakan teror. Ikan-ikan menjadi takut ke pesisir,” katanya.

Kami kembali tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Dalam hati saya mengakui kebenaran kata-katanya. Ikan-ikan berkurang jauh. Bahkan kadang kala kami harus menerima kekecewaan karena pulang dengan tangan hampa.

“Saya tahu, kalian tidak percaya pada perkataan saya,” ujarnya kecewa. Ia meninggalkan kami begitu saja. Begitu ia pergi, saya dapat merasa ada sesuatu yang asing terjadi. Angin kembali mendesir, padahal sebelumnya angin bagai mati. Laut tiba-tiba bergelora. Beberapa perahu merapat, dan kata orang yang baru pulang itu, mereka mendengar desau yang tidak biasa.

Kecurigaan saya kian bertambah. Diam-diam saya menyusun siasat untuk menjebaknya. Saya akan menggiringnya ke tengah warga dan menyebarkan kebusukannya. Saya yakin ia sering merapalkan mantra-mantra untuk membuat laut mengamuk.

***

Malam itu menjadi awal mula saya berada di sini. Ayah dan ibu tidak paham pada apa pun yang ia katakan.

Katanya, ia amat mencintai kampung kami. Ingin rasanya ia memelihara ikan untuk keberlangsungan kami. Lebih lanjut, dengan segala usahanya, ia berjanji pada ayah dan ibu untuk membuat mereka senang kembali. Akan banyak ikan yang mengisi pesisir. Beberapa hari lagi, ia akan ke kota karena ia dibutuhkan di sana.

“Saya merindukan nyanyian-nyanyian yang sering dirapalkan nenek moyang kalian,” katanya menatap lekat mata saya. Kemudian ia membuang pandangan ke arah ayah. Lelaki ringkih itu bergeming seperti menyadari kelalaiannya selama ini. Tapi, tidak lama setelah itu, ia mengatakan bahwa malam itu ia ingin turun bersama saya ke laut karena menurut firasatnya akan banyak ikan.

***

Itu sebabnya, ia membawa saya kemari, lalu dibunuhnya saya dengan menggulungkan ombak ke arah saya. Saya tidak bisa melepaskan diri-berenang ke arah yang lebih kering-sebab kaki saya dililitnya dengan jari jemarinya yang penuh dengan tentakel itu. Saya tidak tahu kapan ia akan melepaskan saya. Atau, barangkali, ia membiarkan saya tetap di sini supaya tubuh saya hancur dan menjadi makanan ikan-ikan. Atau ia menunggu hingga ayah melakukan ritual? Tapi, saya tidak terlalu yakin sebab ayah sudah lama sekali tidak melakukan seremonial, meminta berkah dari laut. Mungkin bibirnya sudah tidak fasih lagi mendaraskan mantra-mantra.

Arsip Cerpen di Indonesia