Pareidolia

Aku tak ingin orang-orang tahu jika sesungguhnya aku mengenali siapa hantu itu. Semua ini bermula dari amarah beberapa tahun silam sejak ia mendadak menghilang setelah mengucapkan maaf. Tipikal.

Seseorang yang mencintai sepenuh hati kekasihnya lalu ditinggal pergi begitu saja tanpa ada sedikit penjelasan? Tapi aku bukan Elisabeta di roman gelap Abraham Stoker yang lalu mati bunuh diri karena kehilangan pengeran Transylvanianya. Lebih baik mencoba berdansa dengan hujan daripada harus menunggu kapan badai itu usai, bukan.

“Dan kamu terima dia secepat kilat menggelegar di awan,” ucapnya datar.

Tak mengherankan ia disebut hantu dengan caranya membaca pledoi di kepalaku. Dari tadi aku coba tak mengindahkan kehadirannya di depan mejaku yang muncul secara tiba-tiba, seperti biasa. Aku hanya terlalu bosan membahas ini. Ampas-ampas putih di luar jendela mengalihkan perhatianku.

“Lihat itu, kini kau membuat salju di negeri tropis.”

“Itu hujan, Sayang. Lihat lagi. Butirannya memang membeku seperti es. Tetapi bukan salju.”

Secangkir moka panas lumayan melipur cuaca yang dingin di tempat ini, kafe tertua yang masih eksis sampai sekarang. Tempat kami dulu biasa menghabiskan waktu sehabis pulang sekolah, kuliah, dan jam kerja kantor. Hubungan panjang yang sia-sia. Waktu adalah pembunuh paling sunyi.

Aku ingat pertama kali bertemu mata dengannya. Sebuah perhelatan musik tahunan di sebuah bioskop tua yang telah disulap menjadi gedung pentas seni anak-anak sekolah. Perkenalan biasa, kencan biasa, janji-janji berikutnya, lalu janji-janji rawan sehidup semati. Masa muda.

Waktu berlari begitu cepat sampai kami sama-sama sudah bekerja, sampai suatu periode komunikasi semakin berkurang, sampai ia kemudian menghilang tanpa alasan.

Kau mungkin akan sulit berempati setelah mengalaminya sendiri. Imajinasi manis akan mahligai cinta hancur berantakan tanpa pernah kau pesan. Pembunuhan yang tak kau mengerti motifnya, atau bahkan tak ada motif sama sekali itu sadis.

Dan orang itu kemudian datang. Randu. Ia ada untuk membasuh lukaku, mengisi segala kekosongan hatiku.

Arsip Cerpen di Indonesia