“Tapi kemudian ia menyakitimu. Semua motif kejahatan itu sama brengseknya aku rasa,” ucapnya dingin. Aku tak ingin menatapnya. Kalau sudah begini ia berlagak di atas angin.
“Setidaknya ia tak membuat luka dalam. Luka yang mengiris jantung. Orang yang tak begitu kau cintai lalu berselingkuh hanya membuat memar kecil di kulit. Jejak itu akan hilang seiring waktu.” Ia diam tak membalas. Hanya mampu menatapku dangan bola matanya yang cerlang kemerahan.
“Sudah cukup tentangku. Kini tentangmu. Apa yang telah kau lakukan pada kota ini. Semua orang membicarakanmu. Semua orang merasa terganggu. Jangan kau buat kota ini jadi kalut karena dendammu.” Sengaja kurendahkan suara agar tak menarik perhatian. Dia tersenyum kecil.
“Kalau kau menganggapku hantu penasaran, aku lebih baik mencari Audrey Hepburn di akhirat daripada harus menemuimu lagi,” godanya. Entah kenapa aku tak merasa cemburu. Jeda menyapa sesaat pada jarak diam antara kami berdua. Wajah pucatnya menerawang jauh ke luar jendela.
“Orang-orang itu…apa mereka tak pernah mendengar tentang global warming? Terkadang manusia butuh pelarian, aku mengerti. Tapi seringkali manusia mengutuk biang keladi atas halhal yang tak mampu mereka kendalikan sendiri. Bukankah manusia memiliki iman dan mengetahui konsep-konsep tentang hukum alam, karma, takdir dan seterusnya.”
“Tapi aku tak ingin mengacaukan kesenangan mereka. Aku hanya menjalani apa yang tak sempat aku lakukan. Dengan sedikit kesenangan pula tentunya. Kita lihat saja, siapa yang mampu membaca mekanisme semesta yang sudah berjalan dengan sempurna ini.”
“Mengisap malam, maksudku…. bagaimana aku mampu melakukan semuanya?” ucapnya seakan memancing jawabanku.
“Dengan cara yang sama seperti memotong senja laiknya sebuah cerita pendek, mungkin?”
Entah bagaimana kata-kata ini meluncur dari bibirku. Dia tersenyum, tangannya berkomedi dengan slapstick. Mungkin ia teringat dengan sebuah fiksi yang pernah ia bacakan padaku di masa silam saat merayu. Senyum kecil yang masih aku rawat. Ia terlihat manis kalau sedang salah tingkah.