Pareidolia

“Aku datang lewat mimpimu, fiksimu, lewat semua kenangan di setiap sudut kota ini meski kau selalu mengingkari. Semua pembelaanku adalah suara hatimu yang lain, dari sebagiannya yang terluka diam-diam tanpa kau sadari. Hantu tidak akan menyakiti, Sayang…bukan begitu cara kerjanya.”

Arah pembicaraan ini semakin membingungkan. Rasanya kepalaku mulai migrain.

“Gambaran hantu di mata orang lain belum tentu sama dengan persepsi kita,” ucapnya.

“Kota ini baik-baik saja. Ingatan kitalah yang membentuknya.”

Mataku tercekat. Bibirku tak mampu berkata-kata.

“Aku menjadi hantu karena kamu ingin aku tetap menjadi hantu.”

Tidak. Aku tidak gila. Dan aku tak akan terjebak dalam permainan pikirannya. Lelaki memang pintar memanipulasi. Tiap pertemuan selalu berakhir dengan perdebatan masa lalu dan penyesalan. Mungkin dia coba meretas alam bawah sadarku. Apa dia ingin membalikkan logika berpikirku?

Hidupku baik-baik saja. Aku bekerja, masih ada keluarga yang biasa aku kunjungi setiap akhir pekannya. Bergaul dengan para tetangga, penjual bunga, pengamen jalanan, teman-teman penulis, atau bartender. Shopping, pergi ke bioskop, bertukar sapa dengan orang-orang yang aku temui di kafe, di taman, bercanda dengan anak-anak kecil di lorong gang. Mengunjungi panti asuhan. Aku manusia normal biasa. Bukan hantu penasaran dan gila seperti kamu.

“Lalu kenapa kamu masih nongkrong di tempat ini?”

Suara itu menghentak, setengah bisikan. Tapi tak ada siapasiapa di dekatku.

Tiba-tiba aku sudah berada di sebuah kafe yang sangat kukenal. Kulihat ruang bartender kosong. Seorang pelayan mulai mematikan lampu dan menaikkan beberapa kursi di atas meja. Sepi.

Sepertinya malam sudah sangat larut. (*)

 

D. Hardi. Tinggal di Bandung. Tulisannya tersebar di beberapa media massa cetak dan digital. Juga bergabung dalam sejumlah antologi seperti, Antologi Puisi ‘Kepada Toean Dekker’ Dinas Dikbud Kabupaten Lebak (2018), Antologi cerpen ‘Cerita dari Koding’ Jejak Publisher (2018), dan Antologi puisi ‘Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari’ Jejak Publisher (segera).

Arsip Cerpen di Indonesia