Pareidolia

Ampas-ampas putih di luar jendela itu masih berguguran. Momentum seperti ini akan menciptakan ilusi waktu antara senja dan maghrib sampai nanar lampu jalan satu-persatu mulai berpijaran. Dan seperti biasa, ia telah menghilang. Dasar hantu.

***

Jika kita susuri jalanan tua di tengah kota ini dengan berjalan kaki, maka waktu yang paling tepat untuk dapat merasakan hawa murni adalah selepas subuh sebelum mentari mengintip langit. Dari kafe yang biasa aku singgahi, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter ke sebelah utara untuk sampai ke taman kota. Masih di satu area, ada sebuah danau kecil yang di tengahnya terdapat gundukan tanah membentuk semacam pulau.

“Menurut cerita lampau danau ini adalah hadiah seorang lelaki pada kekasihnya setelah lama terpisah.”

“Tiap dongeng cinta selalu terpancang monumen untuk dikenang,” balasnya pelan.

“Mengapa setiap kali aku tiba di tempat ini, kamu selalu hadir lebih dulu Ninoff. Apakah di sini tempat kamu bersemayam?”

Ia tak menjawab. Matanya menangkap beberapa angsa yang sedang berenang di pinggiran danau di tengah selubung kabut tipis yang perlahan memudar oleh pancaran matahari pagi. Sinar yang berkilapan bagai memungut serpihan memori. Getaran bibirnya seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Aku sakit Rachma. Sekarat. Itulah alasanku pergi darimu dulu.”

Pengakuannya membuat air danau kini seolah membeku.

Setelah bertahun-tahun, berkali-kali pertemuan. Baru sekarang ia memberikan penjelasan. Terdengar seperti narasi sebuah film tentang hubungan percintaan seorang pengasuh yang jatuh cinta pada seorang lelaki penderita kanker yang pernah aku tonton.

Baiklah, dia sakit keras, lalu aku menerima Randu. Kemudian Randu mengkhianatiku, sempurna sekali ironi ini.

“Kenapa kamu tidak membunuhku saja Noff. Gigit aku, atau apalah. Aku capek.”

Ninoff menatapku lekat-lekat. Gemeretak giginya mengombak di pipi.

“Jadi kamu benar-benar masih menganggapku hantu?”

Aku tak mengerti maksud pertanyaan retorisnya. Matanya yang merah tapi sendu coba menebak alur berpikirku. Tentu saja ia tak akan berhasil. Pikiranku sedang kosong.

“Aku justru datang untuk membangunkanmu.”

Arsip Cerpen di Indonesia