Kembali ke meja yang disediakan untuk pembicara, aku menghempaskan pantatku di kursi putar, salah seorang panitia yang menjadi moderator ikut duduk di sampingku, lalu menanyakan perkembangan risetku tentang khasiat buah ciplukan, buah ciplukan yang dijual dengan harga tinggi di Eropa sangat banyak terdapat di daerah kami. Peserta sudah memenuhi ruang aula, moderator sedang memberi salam dan memperkenalkan Apt. Herman Budiman, M. Farm. Klin sebagai pembicara. Lagi gawaiku berbunyi, nama Aisya Salbi kembali muncul di layar, tolonglah jangan sekarang! ”Ada apa lagi, Sayang? Aku mau presentasi ini.”
“Ada banyak burung, Sayang. Ada banyak burung ingin masuk ke rumahku. Seperti burung walet, mereka menabrak-nabrak kaca jendela…”
“Maaf, Sayang. Aku harus segera memberi materi,” ujarku setengah berbisik. Hubungan terputus, jemariku menekan silent di pengaturan gawai. Merasa sangat terganggu kalau saat memberi materi telepon genggam peserta berbunyi, aku harus memulai dengan membuat mode senyap di gawai sendiri. Moderator mempersilahkan untuk memberi materi, maju ke tengah ruangan, aku memulai dengan meminta para peserta untuk membuat senyap nada dering gawai mereka.
Lima puluh tiga menit kemudian, aku memeriksa layar gawaiku di lobi hotel, ada belasan panggilan dari Aisya Salbi, ini pasti sudah bukan sekadar untuk mencari perhatian pada kekasih, sesuatu pasti telah terjadi. Aisya Salbi tinggal sendirian di rumah kontrakannya di Kota Raja, sementara keluarganya menetap di Bireuen. Kutekan tombol memanggil kembali, terdengar nada sambung, tapi tidak ada yang mengangkatnya. Kutekan nomor yang sama sekali lagi, tetap tidak ada yang mengangkatnya. Rasa cemas mulai menghinggapi, berjalan tergesa meninggalkan lobi hotel sambil berusaha menghubungi Aisya Salbi, aku hanya mengangguk ke arah petugas hotel yang menegurku dengan sopan.
Langit kemerah-merahan pertanda malam akan datang, tak ada tanda-tanda akan turun hujan, seingatku tadi, Aisya Salbi sempat mengatakan ribuan laron masuk ke rumahnya. Ini musim kemarau, tidak seharusnya laron keluar di musim ini, dan yang terakhir dia mengatakan ada banyak burung yang menyerang rumahnya, aku menyetir mobil dengan cepat berusaha mendahului mobil di depanku kemudian berbelok ke sebuah lorong; jalan tikus ke rumah Aisya Salbi.