Beberapa ekor burung terjatuh di bawah kaca jendela kontrakan Aisya Salbi, aku mengambil kayu gagang sapu di di dekat teras, membolik-balik tubuh burung tersebut—bukan gelatik atau pelatuk—Aisya Salbi benar, ini jenis walet hitam, burung itu telah mati. Malam telah merayap turun, tanganku mengetuk pintu rumah, tak ada jawaban, kuulangi lagi, tetap sunyi, dari bawah pintu terlihat sayap-sayap laron berjatuhan. Perlahan, aku memutar gagang pintu, ternyata tidak terkunci, aku melangkah masuk, semakin ke dalam semakin banyak sayap-sayap laron yang berjatuhan, anehnya badan binatang kecil itu tidak kutemukan. “Aisya Salbi!” hening tak ada jawaban. “Sayang, kamu di mana?” Tetap senyap, kecemasan menyergap, aku melangkah menuju pintu kamar, kubuka perlahan pintu itu dan aku tak ingin percaya apa yang kulihat di dalam sana ….
Di atas tempat tidur, seekor laron seukuran anak kambing tengkurap memunggungiku, aku berjinjit, mundur beberapa langkah, kemudian membuka pintu kamar sebelahnya, kamar yang sering dipakai oleh orang tua Aisya Salbi sewaktu-waktu mereka datang ke Kota Raja. Kamar itu gelap, tanganku mencari-cari saklar, kemudian menekannya, dan kamar itu kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan kekasihku di sana. Aku mencarinya ke dapur, ke kamar mandi dan ke sekeliling rumah dengan berbekal penerang dari lampu samping. Nihil. Aisya Salbi tetap tidak ditemukan.
Andai saat dia meneleponku tadi, aku tidak mengabaikan ketakutannya, andai aku langsung meluncur ke rumah ini dengan memberi alasan keluargaku sakit dan harus segera pergi pada panitia acara terkutuk itu, mungkin aku masih bisa menemukan Aisya Salbi. Aku tidak boleh panik begini, bisa saja dia pergi keluar karena ada keperluan, bisa saja saat ini dia berada pada suatu tempat dan dalam keadaan baik-baik saja. Kuambil gawaiku, kembali kutekan nomor Aisya Salbi, terdengar gawai berdering dari kamar depan, aku meluncur ke sana, gawai perempuan itu tergeletak di kepala tempat tidur di dekat laron sebesar anak kambing itu tengkurap. Nada dering gawai membuat makhluk itu bereaksi, lalu dengan susah payah dia menoleh ke arahku, dan mata itu—mata itu mata Aisya Salbi, aku terpana dan tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.
Ini tidak mungkin, tidak mungkin kekasihku berubah menjadi seekor laron, tak ada alasan ilmiah yang bisa menjelaskan kejadian ini, aku terduduk di pinggir tempat tidur, memandang kebingungan ke arah makhluk itu, makhluk yang menatapku dengan mata mengiba.
“Kenapa kau menyukaiku?”
“Cinta kerap tak membutuhkan alasan,” ujarku membual waktu itu, padahal matanya yang bulat dan kecerdasannya yang membuatku tak menginginkan perempuan lain lagi.
“Bagaimana kalau suatu saat nanti hal buruk terjadi padaku, misalnya kecelakaan yang merenggut anggota tubuhku, aku menjadi cacat.”