“Kenapa kau berpikir sedemikian jauhnya, Sayangku?” Kami berada di pantai Ulelhee, menatap keindahan matahari terbenam. Bererapa nelayan, menjajakan ikan di ujung jembatan, kenderaan berlalu-lalang, beberapa pasangan terlihat berboncengan, kami memilih tetap di dalam mobil.
“Kau pasti akan meninggalkanku.”
“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, Aisya Salbi.”
Dia tergelak, “Paling kau juga seperti laki-laki lain, tidak akan meninggalkanku tapi menyunting perempuan muda lainnya sebagai istri kedua.”
“Aku bukan lelaki seperti itu,” ujarku yakin. Tetapi menatap makhluk bersayap bening dan bertubuh tambun yang saat ini berada di atas tempat tidur, saat ini, aku tak punya keyakinan apa pun lagi. Tidak kuingkari kami memang pernah memiliki waktu yang sangat indah, saling tertawa dan mendesah di salah satu rangkang yang ada di pinggir pantai Sabang, atau kebahagiaan-kebahagiaan kami saat kami liburan ke luar daerah, bahkan aku sudah berencana untuk melamar Aisya Salbi akhir minggu nanti. Air bening jatuh mengalir di sudut mata, aku menemukan diriku menangis di kamar perempuan itu, laron hanya berumur satu malam, besoknya dia akan mati kecuali makhluk itu berkembang biak, “Oh, Sayang, aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja di sini.” Bangkit, menghapus air mataku, mengambil selimut yang terlipat rapi di sisi ranjang, aku membungkus makhluk itu dan membawanya ke dalam mobil.
Dalam perjalanan pulang, aku tetap membisu, begitu pun dengan makhluk di sampingku, hanya kulihat dia menggerakkan sedikit kakinya, dia pasti kesusahan beradaptasi dengan kaki-kakinya yang kini berjumlah tiga pasang itu. Sebelum memasuki rumah, aku berdiam sedikit lama di dalam mobil, sampai ibu memanggilku, aku berbisik pada makhluk itu supaya tidak berisik. Aku tidak mau mengejutkan orang-orang rumah, siapa tahu, besok pagi, makhluk ini akan kembali berubah menjadi Aisya Salbi yang bermata bulat. Aku tidak akan peduli pada bapak yang mungkin akan mengusirku karena membawa seorang perempuan ke dalam kamarku, aku tidak peduli lagi, selama Aisya Salbi bisa kembali pada wujudnya yang semula.
“Apa itu yang kau bawa?” tanya Bapak yang sedang menonton berita di televisi, kemudian ibu datang dari arah dapur dengan wajah penasaran. Beruntung Cempa yang biasanya sangat penasaran dengan apa yang kulakukan tidak ikut muncul, mungkin adikku itu sedang belajar di kamarnya.
“Bukan apa-apa, Pak. Hanya baju laboratorium.”