“Letakkan saja di samping mesin cuci, Ibu cuci besok.”
“Tak apa, Bu. Ini tidak aman dicuci di rumah,” aku langsung masuk ke kamar, tak sanggup lagi meladeni pertanyaan kedua orang tuaku. Kuletakkan laron sebesar anak kambing itu di atas tempat tidur, lalu aku kembali lagi untuk mengambil tas kerjaku di dalam mobil, saat keluar kukunci pintu kamar terlebih dahulu, aku tak peduli pada tatapan selidik ibu, aku juga tak peduli ketika perempuan itu menyuruhku makan. Kelelahan lahir batin, aku tertidur di atas tempat tidurku, di samping makhluk itu, bermimpi Aisya Salbi mendatangiku.
Tengah malam, aku merasakan kakiku geli, terkena kaki-kaki kecil makhluk itu. Saat membuka mata, aku mendapati diriku dalam keadaan mendekap makhluk itu dan tak ada pakaian yang melekat di badan. Terkejut, aku melompat bangun dan menjauh, apa yang sudah kulakukan? Mata laron besar itu menatapku memelas, dan itu tatapan Aisya Salbi, bila tidak kawin, besok makhluk akan mati, aku tak bisa membiarkan Aisya Salbi mati begitu saja, aku hanya perlu melihat makhluk itu sebagai kekasihku. Perlahan aku mendekat, aku tak ingin melihat Aisya Salbi meregang nyawa di depan mataku, aku bisa membantunya, jika pun dia tidak bisa berubah menjadi manusia lagi, biarlah dia membuat rumahnya di bawah tanah sana, merawat anak-anaknya. Aku hanya perlu melakukan ini sekali saja, sekali untuk menyelamatkan hidup Aisya Salbi—laron hanya bertahan hidup dalam semalam, kecuali berkembang biak—aku hanya perlu membayangkan keindahan yang kami lalui di rangkang di antara hembusan angin pantai. Aku mendekat dan mencumbui makhluk itu, kami bergumul sampai kelelahan dan tertidur, berharap ini hanya mimpi semata, saat terbangun esok hari, Aisya Salbi menghubungiku memintaku mengantarnya ke kantor seperti biasanya, atau yang terburuk saat terbangun besok, Aisya Salbi berada di sampingku dan orang tuaku bakal marah besar. Hanya saat terbangun, aku mencium bau pengap, lembab dan gelap, aku membuka mata dan menemukan diriku berada dalam sarang rayap dengan rayap-rayap kecil menatap ke arahku. Kedinginan dan menggigil, aku tidak bisa memastikan apa ini masih di kamarku?
Ida Fitri, lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Tulisannya pernah terbit di Koran Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat, Tabloid Nova dan lain-lain. Kumcer Pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong (2017)