Kata orang, menjelang umur 17 tahun adalah usia terindah dan Santi sepenuhnya setuju. Hanya satu hal dalam hidup yang, kalau memang bisa, ingin ia ubah. Andai saja namanya Sinta seperti kakak kelasnya, Sinta Indrawati, yang selalu digodain berpasangan dengan Rama, idola SMAN 1, sekolah mereka. Tapi ia sudah menerima bahwa Rama dan Santi bukan Rama dan Sinta juga enak didengar dan ditulis. Ia tahu karena kerap menggoreskan nama mereka di kertas catatan tiap malam sembari mengingat bagaimana akhir-akhir ini Rama suka mencuri pandang dirinya dengan pandangannya yang teduh.
Sekilas melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Santi terkesiap dan bangkit dari ranjang. Ia harus buru-buru kalau tidak ingin terlambat ke sekolah. Mendadak ia merasa dunia berputar dan ia harus menggapai meja belajar agar tidak jatuh. Sebentar! Yang ia raih adalah sebuah nakas putih yang asing. Ruangan ini juga asing dan bukan kamar tidurnya yang nyaman di rumah. Sayup-sayup bau disinfektan menyergap hidungnya yang terbiasa dengan bau aroma lavender yang biasa disukai mamanya di rumah.
Santi merasa kepanikan melanda dirinya sebelum teringat nasihat dokter Manda. Mulailah dari fakta sederhana. Nama saya Santi, saya akan berulang tahun ke-17 bulan Mei nanti. Saya anak sulung dari dua bersaudara. Saudara? Di mana Devi, adik balita kesayangannya? Di mana Papa? Mama? Ia menutup mata sejenak berharap saat membuka mata, Mama akan masuk ke kamarnya dan berkata dengan nada menggoda, “Sudah cukup bobonya putri tidur, Mama sudah siapkan sarapan!”
Tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam ia tahu: Papa, Mama, dan Devi sudah tiada. Mereka tewas dalam kecelakaan tragis saat pulang dari Brastagi. Kenyataan itu menghantam Santi dan membuatnya susah bernapas. Keringat dingin mengucur deras di punggung dan dahinya. Jantungnya berdegup kencang tanpa mampu mengantarkan darah yang cukup ke seluruh tubuh. Santi menarik napas dalam-dalam mencoba melegakan impitan di dadanya yang terasa akan meremukkan rangka dadanya.
Mobil yang terguling dan terbakar membuat jasad orang-orang yang dikasihinya tampak mengenaskan. Terutama Devi, adik semata wayang yang dipinta Santi terus-menerus dengan segenap hati karena Mama dan Papa selalu berdalih cukup punya satu anak. Devi yang menunggu-nunggu kepulangan Santi setiap sore. Devi yang memohon agar Santi ikut ke Brastagi untuk wisata keluarga tapi Santi menolak karena harus mengerjakan tugas pada hari Minggu nahas itu. Sekarang ditambah rasa bersalah yang kuat benar-benar melumpuhkan dirinya. Santi bergelung seperti bayi di lantai, rambut dan bajunya basah kuyup. Air matanya yang menganak sungai pun tak mampu menghapus kenyataan pahit. Lebih pahit dari cairan empedu yang saat ini naik ke mulutnya.