“San, kamu terkenal lho sekarang! Nih, lihat deh. Videomu sudah dilihat di atas 100 ribu kali!” Tidak mengerti yang dikatakan Dewita, Santi hanya bisa menatap ponsel di tangan Dewita. Matanya yang bulat membelalak tak percaya.
Santi melepaskan seragam dan menggantinya kembali dengan piyama. Tadi dia sudah memberi pesan pada suster Nur bahwa hari ini ia belum siap kembali ke sekolah karena pusing. Suster Nur hanya mengiyakan dan mengangsurkan tiga butir obat pagi. Setelah yakin Santi meneguknya, suster Nur mengizinkannya kembali ke kamar untuk istirahat. Mungkin karena melihat mukanya yang kuyu, suster Nur berusaha menghibur. “Gak apa-apa San, besok pasti sudah lebih segar dan bisa kembali ke sekolah.” Santi buru-buru membalikkan badan agar Suster Nur tidak melihat agoni di mukanya. Tidak mungkin besok dan tidak akan selamanya. Ia tidak punya ketegaran menghadapi siapa pun lagi. Tidak dengan adanya video tersebut.
Samar-samar ia ingat kejadian di video tersebut. Entah hari ke berapa setelah kejadian tersebut, waktu tidak berarti lagi baginya. Ia merasa bagaikan hewan yang dikerangkeng. Neneknya selalu mengunci pintu agar Santi tidak bisa keluar, padahal Santi ingin mencari Devi. Santi yakin Devi ada di sekitar rumah karena suaranya kerap terdengar. Suara Devi sedang tertawa, suara Devi bercanda dengan Mama, suara Devi yang lagi merajuk. Nenek menyuruh Santi mandi dan sesaat sebelum berpakaian Santi mendengar Devi berteriak keras memanggilnya. Sontak Santi berusaha keluar dari kamar mandi tapi pintu terkunci. Ia memanjat bak dan keluar dari jendela dan berlari ke jalan raya.
Devi sedang menangis kesakitan. Badannya merah penuh dengan lepuhan luka bakar yang terlihat menyeramkan. “Panas… panas Kak Santi, tolong siramkan air!” tangis Devi memelas hati. Santi buru-buru menyiramkan air bergayung-gayung ke badan adiknya yang melepuh itu. Ajaib sekali, setiap gayungan air itu membuat tangisan adiknya semakin lirih dan berhenti. Berangsur-angsur kulitnya membentuk keropeng hitam. “Sabunin Kak!” pinta Devi. Sesaat Santi ragu tapi Devi terus memohon. Dengan lembut, Santi menyabuni badan, kaki, dan tangan Devi. Ajaibnya, setiap sentuhan Santi membuat kulit mati Devi terlepas dan di bawahnya sudah terbentuk kulit halus dan tipis seperti bayi. Santi ingat bagaimana ia selalu membantu memandikan adiknya, mencium aroma harumnya. Sekarang juga ia bisa menyentuh kembali rambut, alis, muka adiknya yang bulat dan manis. Orang-orang di sekelilingnya berseru dan tertawa, gawai-gawai yang merekam dirinya semuanya menjadi latar yang tidak penting bagaikan musik yang terlupakan di restoran yang ramai. Pelan ia bersenandung dengan suara jernih, lagu kesukaan Devi dan dirinya.