Viral

Kata dokter Manda, ia bebas menangis, jauh lebih baik daripada disiksa suara-suara tak dikenal yang mengumpat dirinya sebagai anak dan kakak tak becus, suara yang memerintahkan dirinya untuk bunuh diri dan yang paling parah suara Devi yang minta tolong tak henti-hentinya. Satu kali Santi berusaha lompat dari lantai tiga rumah neneknya bukan karena halusinasi perintah, tapi lebih karena ia sudah tidak tega mendengar tangisan Devi, sementara ia tak berdaya menolongnya sama sekali.

Santi hanya samar-samar mengingat bagaimana ia ditahan oleh paman dan bibinya. Bagaimana ia dibawa ke rumah sakit jiwa ini dan bertemu dengan dokter Manda, seorang psikiater. Kata kasar dan umpatan yang ia lontarkan tak membuat dokter Manda berhenti berusaha untuknya. Awalnya hanya menemani dalam kebisuan karena Santi menolak untuk bicara sampai akhirnya ia mau berbincang mengenai sekolah dan teman-teman, mengenai keluarga, mengenai musibah yang menimpa Papa, Mama, dan Devi. Terasa mudah bicara dengan dokter Manda. Tidak seperti nenek yang selalu histeris atau paman yang selalu memberi petuah. Penjelasan dokter Manda mengenai penyakit psikotik akut pelan-pelan diserap oleh nalarnya. Trauma mendalam yang membuatnya rentan terhadap kenaikan zat dopamin akan merangsang lobus-lobus otaknya untuk menghasilkan suara-suara halusinasi yang tidak nyata. Bagaimana ia harus mengadopsi mekanisme pertahanan psikologis diri yang lebih baik. Bagaimanapun dunia ini adalah dunia yang nyata dan jauh lebih baik daripada dunia penuh halusinasi dan waham bahwa adiknya belum meninggal. Sebuah diksi psikologis picisan awalnya, tapi sekarang Santi percaya sepenuh hati.

Pelan-pelan dengan konseling dan obat antipsikotik yang teratur ia minum membuat halusinasi jauh berkurang sampai akhirnya pupus. Sayangnya, obat tidak bisa membuat ia lupa akan perihnya rasa kehilangan.

Santi teringat ia sudah berjanji akan mencoba ke sekolah hari ini. Hanya beberapa jam sesuai dengan koordinasi dokter Manda dan pihak sekolah. Sejujurnya Santi sudah lelah berduka dan ingin melanjutkan kehidupannya. Bahkan beberapa hari terakhir ia mulai teringat pada pandangan teduh Rama. Ia juga rindu pada guru dan teman sekolahnya. Menurut dokter Manda, bersekolah juga akan mempercepat pemulihan penyakitnya. Dengan pemikiran tersebut, Santi berusaha menenangkan dirinya, mencuci muka dan berjalan ke ruang makan untuk sarapan.

“Santi! Sini buruan deh!” seru Dewita dengan suara kencang. Santi sudah cukup terbiasa dengan suara kencang Dewita yang lebih dahulu masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Seakan-akan Dewita dikaruniai pita suara yang lebih besar ketimbang orang lain. Dewita sebaya dengan Santi. Mukanya manis dengan rambut diwarnai oranye dan saat ini dijepit sekenanya di atas leher. Sikapnya riang, tidak terlihat sakit sama sekali kalau saja orang tidak memperhatikan banyak goretan-goretan di pergelangan tangan kirinya. Dewita pengidap gangguan bipolar dan saat ini sudah dalam fase euthym yang artinya tidak lagi depresi maupun manik. Namun kadang-kadang ia masih bersikap impulsif dan tak terduga seperti kemarin memutuskan untuk memesan layanan Go-Food dengan jumlah membeludak dan membuat suster dan dokter jaga kewalahan hanya karena ia tidak suka sup ayam yang tersaji hari itu.

Arsip Cerpen di Indonesia