Nok Iti

1. Tanda Pengenal
Namaku Wasti
mereka memanggilku Nok Iti
anak dari seorang buruh tani.
aku dianugerahi tubuh yang subur
dengan buah yang lebat dan
montok.
jika burung terik melintasi tanah
kami
bapak berkata, “mangsa ketiga
akan pergi”.
ketika musim tandur tiba
kami membajak sawah yang
bukan milik kami hidup kami,
menanam dan memanennya.
setelahnya kemarau mengeringkan kembali perut
kami.
aku ingin setiap mangsa ketiga
burung-burung lain datang membawa nasi(b) yang
sama.
tapi kata bapak, Dewi Sri hanya datang di musim
tanam
ia turun bersama hujan
dan mencium wini milik kami ketika malam.
ana manuk sing ora bisa mabur
namung bisa gawa sira mabur.
sebab itu aku memanggil burung lain
untuk membawaku ke dalam musim hujan
di mana Dewi Sri memelukku dalam dingin.