Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam

Nok Iti

Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam ilustrasi Media Indonesiaw
Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam ilustrasi Media Indonesia

1. Tanda Pengenal

 

Namaku Wasti

mereka memanggilku Nok Iti

anak dari seorang buruh tani.

 

aku dianugerahi tubuh yang subur

dengan buah yang lebat dan

montok.

 

jika burung terik melintasi tanah

kami

bapak berkata, “mangsa ketiga

akan pergi”.

 

ketika musim tandur tiba

kami membajak sawah yang

bukan milik kami hidup kami,

menanam dan memanennya.

setelahnya kemarau mengeringkan kembali perut

kami.

 

aku ingin setiap mangsa ketiga

burung-burung lain datang membawa nasi(b) yang

sama.

 

tapi kata bapak, Dewi Sri hanya datang di musim

tanam

ia turun bersama hujan

dan mencium wini milik kami ketika malam.

 

ana manuk sing ora bisa mabur

namung bisa gawa sira mabur.

 

sebab itu aku memanggil burung lain

untuk membawaku ke dalam musim hujan

di mana Dewi Sri memelukku dalam dingin.

 

Arsip Cerpen di Indonesia