Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam

Senja dalam Secangkir Kopi Hitam

Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam ilustrasi Media Indonesiaw
Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam ilustrasi Media Indonesia 

orang-orang menghindari kesepian

dengan meminum kopi

yang terbuat dari jalanan sesak

dunia yang sesak.

 

aku melihatmu terbangun

dalam aroma kopi yang memabukkan—

cinta yang kita buat dari hujan

di bulan mei yang licin.

hatiku tergelincir. basah dan dingin.

 

aku terbangun oleh aroma kopi

di musim kemarau yang kering.

di bumi yang bising.

senja yang selalu kau ceritakan

dicuri sepasang remaja

ke barat. ke hatiku.

seperti Neruda yang gagal mencuri senja

untuk kekasihnya.

 

jalan-jalan menyimpan harapan

kota-kota berjalan

di atas hati yang rawan.

 

aku menulismu di kota yang tumbuh

gedung-gedung mengusirku

dari trotoar yang sempit

dari hatiku yang terhimpit olehmu.

 

aku mencium aroma tubuhmu

dari secangkir kopi.

biarkan aku meminum kesepian

dari mulutmu

agar pahit-manisnya kurasa

agar nafsu-gerahnya binasa.

 

aku melihat senja meninggalkanku

masuk dalam secangkir kopi

bersamamu.

 

Yogyakarta, 2014-2018

 

 

Kedung Darma Romansha, kelahiran Indramayu, 1984. Kumpulan puisi terbarunya Masa Lalu Terjatuh ke Dalam (Rumah Buku, 2018), dan novelnya yang berjudul Telembuk (Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat) masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan buku rekomendasi Tempo 2017.

Arsip Cerpen di Indonesia