Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam

2. Cinta Pertama

Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam ilustrasi Media Indonesiaw
Bangun Pagi yang Membosankan; Nok Iti 1. Tanda Pengenal; 2. Cinta Pertama; 3. Sumpah Biduan; 4. Panggung; Senja dalam Secangkir Kopi Hitam ilustrasi Media Indonesia

ketika bunga di tubuhku baru saja mekar

Mukimin memetiknya dengan setengah modar.

ia berkata, “aku akan mengantarmu ke rumah cinta

yang demam.”

 

“itulah kenapa kamu diutus untuk menjengukku.”

lalu ia mengusap sepi di rambutku.

“tapi aku bukan Safitri, bukan Diva, yang membuat

orang tergila-gila.”

“kamu memang bukan Safitri, tapi kamu membuatku

hampir gila, Nok Iti.”

 

cinta pun bersambut dalam hingar dangdut

di malam setengah teler penuh asap-kabut.

 

“nyanyikan lagu untukku, Nok Iti!

dan jadilah kembang dangdut di kampung ini”.

 

“demi burung yang kupanggil dan demi musim yang

dibawanya,

aku memulai takdirku dari panggung ini.

demi kemarau yang mengusir petani ke kota-kota,

demi pemilu yang dulu membungkam suara kami,

damailah dalam goyanganku.”

 

Arsip Cerpen di Indonesia