2. Cinta Pertama

ketika bunga di tubuhku baru saja mekar
Mukimin memetiknya dengan setengah modar.
ia berkata, “aku akan mengantarmu ke rumah cinta
yang demam.”
“itulah kenapa kamu diutus untuk menjengukku.”
lalu ia mengusap sepi di rambutku.
“tapi aku bukan Safitri, bukan Diva, yang membuat
orang tergila-gila.”
“kamu memang bukan Safitri, tapi kamu membuatku
hampir gila, Nok Iti.”
cinta pun bersambut dalam hingar dangdut
di malam setengah teler penuh asap-kabut.
“nyanyikan lagu untukku, Nok Iti!
dan jadilah kembang dangdut di kampung ini”.
“demi burung yang kupanggil dan demi musim yang
dibawanya,
aku memulai takdirku dari panggung ini.
demi kemarau yang mengusir petani ke kota-kota,
demi pemilu yang dulu membungkam suara kami,
damailah dalam goyanganku.”