Di Balik Bingkai Formosa

Masih hangat di dalam ingatan. Bagaimana sibuknya aku menjadi seorang mama sekaligus papa bagi Dimas. Pasca perceraian rumah tangga kami, aku memilih pisah dari orang tua. Menyewa ruko dan membuka usaha bengkel, sembari berjualan sembako. Adik dan keponakanku yang menjadi montir reparasi motor. Aku sengaja menyingkir, karena tak ingin membebani bapak dan ibu yang telah luka karena kegagalan rumah tanggaku. Sejak awal, beliau tak menyetujui pernikahan ini. Namun atas nama cinta, aku memohon agas restu tetap kudapatkan. Meskipun akhirnya, prahara rumah tangga tak terelakan. Dua tahun kulalui hidup mandiri dengan penuh ketegaran, setelah akhirnya aku memutuskan meninggalkan kampung halaman. Mengobati luka yang menganga, sekaligus mempersiapkan masa depan Dimas agar jauh lebih baik. Taiwan adalah tujuanku.

***

Gerimis turun membasuh bumi, membuat cuaca dingin kian mencekat. Kesiur angin malam kian membuat hening suasana. Waktu berlalu menggerus apa pun yang berada di lingkarannya. Waktu jua yang menyirami kesedihan hingga hilang tak berbekas. Karamnya rumah tangga, hati yang tersakiti, dan harus berpisah dengan putra semata wayang. Semua terasa lengkap menjadi paketan cobaan yag harus kurasakan, sekaligus pemantik semangat dalam perjuangan. Menyerah, dan kalah. Atau berjuang demi kemenangan.

Sibuknya aktivitas adalah senjata ampuh mengusir sepi. Sedari pagi membuka mata, sederet pekerjaan telah menanti. Mulai dari mengurus kakek dan nenek, memasak untuk keluarga besar yang terdiri sebelas orang, membersihkan rumah, merangkap pabrik dan hewan piaraan. Semuanya telah terjadwal di setiap jamnya. Menelepon keluarga adalah obat penghilang lelah paling mujarab. Karena di sini aku tidak boleh bercakap dengan tetangga, apalagi sesama pekerja dari Indonesia.

“Bagaimana kabarmu, Nduk?” suara ibu memulai percakapan.

“Alhamdulillah sehat, Bu. Dimas sedang apa?”

“Baru saja tidur. Tadi siang kecapaian main mobilan yang dibelikan Omnya.”

“Bu, apa Dimas ndak pernah menanyakan saya?”

“Ya pernah, Nduk. Kadang pas minum susu dia bilang Mama … mama, sambil mencari di sekitar ruangan, atau menciumi fotomu saat sedang duduk memangku Dimas di ruangan TV.”

Deegghhh!…

Arsip Cerpen di Indonesia