Sekarang ia telah duduk di bangku kelas empat sekolah dasar (SD). Dimas harta istimewa yang kupunya, titipan Tuhan yang harus kujaga dengan amanah. Meskipun berjauhan, tak mengurangi perhatianku kepadanya. Apalagi, setelah adalah ponsel pintar, kian memudahkan kami dalam berkomunkasi.
Melalui sambungan seluler, kami menjalin komunikasi. Meluruhkan rasa rindu yang tak bertepi. Dimas tumbuh menjadi anak cerdas, meskipun tergolong pendiam. Suara renyahnya kerap melafazkan doa-doa yang diamalkan pada rutinitas keseharian. Seperti doa makan, hendak tidur, hingga doa ayah dan ibu. Saat mendengarkan doa ini hatiku luruh. Seorang bocah kecil yang kutinggalkan saat umur dua tahun, kini sudah bisa mendoakanku. Menyebut namaku dalam rapalnya.
“Tuhan, sungguh ini karunia yang tak ternilai hargamu. Akan kupertaruhkan seluruh kehidupanku untuk masa depannya.”
***
Perlahan aku bangkit, menatap tegar pada kehidupan. Waktu selalu tepat untuk melakukan sesuatu yang benar dan menemukan jati diri. Dimulai pada kontrakku yang kedua, aku mendapatkan hak berlibur satu bulan sekali, kugunakan waktu tersebut mengikuti kegiatan bermanfaat yang diadakan oleh organisasi pekerja migran, atau wadah-wadah majelis taklim Indonesia yang berada Taiwan. Tujuanku satu; menambah ilmu dan pengetahuan, untuk bekal pulang ke Tanah Air.
Langit memang tak selalu cerah, perjalanan hidup pun tak selamanya indah. Terkadang akan ditemukan kerikil tajam yang siap menghunjam, serta duri yang akan menyakiti. Ada rasa sakit, kesedihan, kesusasahan, bahkan merasakan kehilangan.Tapi aku yakin, di setiap detik peijalanan hidup yang kita lalui, pasti ada pelajaran dan hikmah kehidupan yang kita pelajari.
Taipei, 16 Februari 2018
Catatan
Formosa = Sebutan lain negara Taiwan.
Eti Nurhalimah wanita penggemar kopi yang gemar berimajinasi. Beberapa kali menjuarai perlombaan menulis, peraih juara III VOI Award RRI 2017, Jury Award Taiwan Literature Award Migran (TLAM) 2017 di Taiwan, dan juara I lomba menulis cerpen Inspiratif Forum Pelajar Muslim Indonesia Taiwan (F0RMMIT) 2018. Etty merupakan pekerja migran dan berstatus mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan. Buku Perdananya bertajuk Wanita di Balik Badai terbit pada 2015. Penulis bisa disapa melalui etimelati18@gmail.com.