“Mbak, ini bisa dibaca-baca di rumah, edisi bulan lalu. Karena yang bulan ini belum terbit,” ucapnya seraya menyodorkan majalah tersebut.
“Wah … terima kasih, Mba. Nanti saya baca-baca kalau malam.”
“Ia, Mba. Kalau mau beli apa-apa silakan datang saja. Di sini juga menyediakan penjualan HP dan elektronik lainnya.”
“Terima kasih, Mba. Nyonya sudah datang, saya permisi pulang.”
Setiba di rumah, dari sekian belanjaan yang kubeli, majalah yang pertama kali aku pegang. Setahun di sini sungguh membuatku ibarat katak dalam tempurung. Tidak tahu apa pun, hanya bekerja dan bekerja. Di dalam majalah tersebut terdapat beberapa cerita pendek, yang juga ditulis oleh rekan BMI. Profil mereka sedikit tertera di akhir cerita yang dipublikasi. Ketika aku membaca tulisan mereka, terbersit dalam hatiku, seandaianya aku pun bisa menuliskan kisah kehidupanku menjadi sebuah karya. Tentu ini sangat menyenangkan. Namun, ini tidak mungkin, karena aku tidak bisa menulis, bahkan tidak memiliki waktu untuk melakukannya. Semuanya tersita oleh pekerjaan.
Tepat dua tahun aku bekerja di rumah tersebut, nenek yang kujaga meninggal dunia. Padahal aku mulai terbiasa dengan ritme keadaan dan situasi di sana. Namun, karena nama pasien di kontrakku adalah nenek, terpaksa aku harus keluar dari rumah tersebut. Saat itu, kontrakku masih tersisa satu tahun. Sempat berpikir, Tuhan tak pernah adil kepadaku. Karena di luar sana, banyak yang bekerja dengan penuh kebebasan hingga beberapa kali menambah kontrak. Namun, semuanya tidak berlaku padaku, yang selalu menuai kesedihan dengan rundung air mata yang mendalam. Namun, aku percaya, DIA takkan menguji umatnya di luar batas kekuatan yang dimliki.
Aku bingung memutuskan, pulang atau berganti majikan. Namun, dalam hati aku berjanji, tidak akan pulang sebelum membawa kesuksesan. Ganti majikan itulah pilihanku. Agensi membantu segala proses perpindahan, meski harus menunggu sepuluh hari. Hingga akhirnya aku bekerja di tempat ini—majikan kedua—yang mengajarkan banyak air tentang kehidupan, kesabaran, dan perjuangan untuk meraih masa depan.
Saat ini merupakan kali ketiga kontrak kerjaku di Taipei dengan majikan yang sama, saat kutandatangi kontrak setelah kematian nenek. Selama tujuh tahun bekerja, dua kali aku mengambil waktu cuti ke Tanah Air. Menemui Dimas dan keluarga yang kusayangi. Meskipun pada awal kami bertemu, ia sangat pemalu. Cenderung seperti tidak kenal. Namun, ikatan batin antara anak dan ibu tak akan hilang. Dengan cepat kami akrab, dan waktu dua bulan cuti, terasa sangat cepat.