Di Balik Bingkai Formosa

Seolah bogem besar menghantam dadaku. Nyeri, terluka, tetapi tak berdarah. Nelangsa, saat membayangkan Dimas pertama kali mengucap mama, berjalan tertatih- tatih saat kuulurkan tangan dari kejauhan. Pipinya yang montok ikut bergerak-gerak saat berlari.

“Dimas, mama rindu, Nak.” Batinku lirih.

***

Satu tahun bekerja, Nyonya membawaku ke sebuah toko Indonesia. Saat itu, merupakan kali pertama aku keluar rumah. Setiap bulan, nyonya yang membantu pengiriman uang, membeli pulsa, dan beberapa barang Indonesia. Mie instant juga termasuk di dalamnya. Sepanjang jalan, aku melihat ingar bingar Kota Tauyouan dengan lampu berwarna warni, kendaraan berlalu lalang, seolah menjadi hiasan negeri dengan sebutan pulau Formosa ini. Beda dengan kampungku, bakda maghrib jalanan sudah lengang. Semua penghuni rumah enggan ke luar rumah, mereka menilih duduk santai di depan televisi sambil bercengkerama dengan keluarga.

Namun, aku merindukan semuanya. Suara jangkrik di malam hari, atau kodok yang bersautan setelah turun hujan. Salat berjamaah di mushala pinggir lapangan. Ataupun tegur sapa ibu-ibu saat membeli sayuran di pedagang keliling. Kebersamaan dalam bertetangga, yang nyaris tak pernah kujumpai di sini. Karena semua penghuninya sibuk berkompetisi meraup keberhasilan dan mengisi pundi-pundi kekayaan.

***

Tibalah kami di sebuah ruko kecil bertuliskan “Toko Indonesia”. Tempat itu menjual beranekaragam produk Tanah Air. Sayup-sayup kudengar dentingan musik dari balik ruangan. Beberapa menit kemudian keluar dua orang perempuan, yang satu rambut disemir cokelat, sedangkan satunya berambut lurus sebahu dengan hidung dan telinga penuh tindikan.

“Baru datang ya, Mbak?” sapa mereka.

“Ia Mbak. Baru setahun aku di sini.”

Begitulah realita bekerja di negeri orang. Lamanya jangka kerja kerap diprediksi dari penampilan seseorang. Jika telah bertahun-tahun di Taiwan, banyak yang tergerus gaya luar negeri dengan dandanan bak selebriti. Mengkoleksi barang bermerk, sehingga pulang tidak membawa apa-apa. Istilahnya. Finis kontrak, finis juga pendapatan.

Usai memilih barang belanjaan dan membayar semuanya. Aku pun menunggu nyonya yang sedang membeli barang di tempat lain. Pemilik toko adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan pria Taiwan. Orangnya cantik, ramah, khas para memilik toko. Dia memberiku sebuah majalah Indonesia edisi bulan lalu, sebagai hadiah karena aku belanja banyak.

Arsip Cerpen di Indonesia