Bardi paling bungsu dalam keluarga, satu-satunya lelaki di antara dua kakak perempuannya. Kendati pun Bardi paling kecil dari segi usia, ia tahu bahwa suatu saat nanti dua kakaknya akan menikah dan pergi bersama suami mereka yang sudah pasti akan mengirim mereka kepada nasib yang sama, yaitu menjadi seorang ibu rumah tangga atau paling tidak bekerja menjemur ikanikan kering di Pulau Halang.
Maka, Bardi tahu bahwa ia kelak tak hanya merobek tiap halaman kalender, tetapi juga meredam tangis Omak sepanjang tahun. Serpihan ingatan Omak tentang peristiwa pembunuhan itu terus membuat hatinya berkecamuk.
Di depan mata, saat itu, Bardi menyaksikan ayahnya disiram air keras oleh dua pengendara sepeda motor yang melaju di depan rumah. Pagi itu, sungguh naas. Kedua bola mata ayahnya buta dan tangan sebelah kanan menjadi lumpuh setelah beberapa kali pembedahan sehingga akhirnya tak lama setelah kejadian itu, Bardi mendapati ayahnya tersandar di bawah pohon sawit dengan seutas tali mengebat leher ayahnya itu. Polisi yang mengusut peristiwa itu tak mampu menemukan siapa pelakunya. Bahkan bertahun-tahun lamanya sampai kasus itu ditutup.
Bardi berusaha mencari tahu mengapa dua pengendara sepeda motor secara tiba-tiba menyiram ayahnya dengan air keras. Mengapa orang-orang membenci ayahnya. Dan mengapa harus dibalas dengan cara yang keji.
Tentunya, dua pengendara sepeda motor itu masih begitu pekat dalam ingatan Bardi. Ia percaya suatu waktu, kebenaran akan terungkap. Ia hanya meminta keadilan tetapi tak ada yang mendukungnya. Bertahun-tahun pula ia robek tiap halaman kalender dan melihat Omak duduk di depannya sambil menangis.
Setelah dua kakaknya pergi, Bardi menyadari bahwa sebelah kakinya akan lebih dekat melangkah ke pintu surga. Semua ia lakukan demi Omak.
Tetapi tak lama, saat Omak terus-terusan menangis di depan kalender, saat itu pula hatinya terpuruk. Rumah terasa semakin jatuh dalam kesunyian. Hati Omak melarat dan Bardi berusaha melawan keadaan dengan tetap berada di sisi ibunya itu. Tetapi nasib berkehendak lain. Suatu pagi, Omak pamit hendak ke kota dengan menumpang eltor—kendaraan pengangkut buah sawit yang kalau berjalan meninggalkan kepulan debu di belakangnya.