Bardi tersungkur, kantornya tampak sepi. Air matanya mendadak bercucuran. Ternyata, keadilan lebih terlihat seperti luka yang basah di antara rasa bersalah. ***
Bagansiapiapi, 2018
Delvi Yandra, lahir di Palangki 10 Desember 1986. Aktif mendongeng dan bergiat di Teater Rumah Teduh, Studio Merah, Layarbirustudio, dan Kadangpadati. Menulis puisi dan cerpen yang telah tersiar di Koran Tempo, Koran Sindo, Jambi Independent, Riau Pos, Padang Ekspres dan beberapa media lokal lainnya selain termaktub dalam antologi bersama Kembang Gean (Balai Bahasa Padang; 2007), Jalan Menikung ke Bukit Timah (Temu Sastrawan Indonesia II; 2009), Sisi Gelap Warisan Budaya (Jurnal Kreativa; 2009), Berjalan ke Utara (2010), Narasi Tembuni (KSI Award; 2012), Akar Anak Tebu (Pusakata Publishing; 2012), Lelaki Tua dengan Tato di Dadanya (Leutikaprio; 2013). Ia juga meraih penghargaan Anugerah Adiwarta 2011 untuk Kategori Jurnalis Muda Berbakat dan Kategori Liputan Bidang Seni-Budaya atas karyanya Menarilah Mun, Tegakkan Kepalamu. Saat ini bekerja sebagai marketing Bank BRI di Bagansiapiapi, Riau.