“Omak hendak ke Bagan. Tengok Koh Kim, bininya melahirkan,” ujar Omak tergesa-gesa. Koh Kim adalah kerabat dekat ayah Bardi yang dulu pernah mempekerjakan ayahnya menjaga tambak kerang di laut.
Bardi tidak menduga bahwa itu adalah hari terakhir ia bertemu dengan ibunya.
Bardi pun pergi ke kota, berharap ia menemukan Omak di kediaman Koh Kim. Tetapi Koh Kim membantahnya seraya menyodorkan istrinya ke muka pintu. “Biniku tak bunting! Demi Tuhan, bahkan batang hidung Omak kau pun tak ada kami tengok!”
Tersirap darah Bardi. Perasaan bersalah benar-benar telah menyelimutinya. Kabar tentang hilangnya Omak ia sampaikan juga kepada kedua kakaknya. Mereka terkejut dan berusaha mencari tahu tentang keberadaan Omak. Hasilnya nihil. Bardi pulang ke Sinaboi dengan rentetan kekecewaan. Polisi, sekali lagi, tak dapat berbuat apa-apa. Ke manakah Bardi hendak menumpang keadilan.
Tahun-tahun pun berlalu dengan cepat.
Baginya, mungkin keadilan akan lebih terang benderang di kota. Dengan meninggalkan kampungnya, Bardi berharap tubuhnya yang kuat akan berguna di sana. Sebab di kampung, banyak orang meminjam jasa Bardi untuk memanen buah sawit. Selain karena tenaganya yang kuat, Bardi termasuk pribadi yang jujur dan tidak neko-neko. Setiap pekerjaan selalu ia selesaikan dengan baik.
Sampai suatu ketika, kota memberi ia segalanya. Jabatan dan kedudukan yang strategis. Kedekatannya dengan orang-orang penting menjadi tolak ukur kesuksesannya. Berawal dari bekerja serabutan di kota sambil kuliah, sampai akhirnya Bardi menjadi seorang pengacara terkenal. Di mana ia duduk, di situ orang-orang meminta keadilan. Ya. Tidak sulit baginya untuk membuat orang-orang di sekitarnya jatuh ke dalam kesengsaraan sehingga keadilan baginya harus dirayakan dengan buruk.
***
Ia tahu bahwa keadilan tak selamanya berpihak kepada orang yang lemah. Seperti yang dialami Bardi selama ini. Baginya, nasib sama halnya dengan map yang tergeletak di atas meja itu.
“Kami sudah terlanjur sampai sejauh ini, Pak.”