Keadilan Bardi

Bardi menatap keduanya dengan penuh rasa iba. Tetapi hal itu sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. “Saya pikir, kita sudah selesai.”

Tak ada pengampunan. Hanya kebencian dan penderitaan yang terpancar dari matanya. Bardi duduk dan memutar-mutar pena di tangannya. Ia buka tiap lembar kertas yang ada di dalam map seperti membuka masa lalu yang berat.

Ia mendengus, berpikir sejenak, lalu berkata sekali lagi dengan suara yang jelas. “Kita sudah selesai.”

“Tidak mungkin kami mencabut laporan itu, Pak.” Tukas pria yang satu.

“Tolonglah Pak. Kami sudah membayar uang mukanya. Tetapi janji pembangunan kondotel sampai sekarang belum juga terwujud.” Ucap pria yang satunya lagi sembari membenarkan posisi kacamatanya.

Bardi, sekali lagi mendengus. “Saya tidak bisa membantu. Carilah kuasa hukum yang lain saja.” Tegasnya kembali.

Mereka pun mundur, menarik map ke dalam tas dan berlalu.

Begitu banyak orang percaya dengan lekat tangan Bardi di persidangan. Argumentasinya selalu logis dan didukung dengan dasar yang jelas. Tetapi bagi Bardi, kemenangan kliennya tidak serta merta memberi kepuasan.

Sejak dulu, di kampung, ia mencari keadilan. Tetapi keadilan itu baginya tajam ke bawah. Seperti keadilan bagi ayahnya. Keadilan bagi Omak. Keadilan bagi kedua kakaknya yang nasibnya bergantung kepada suami. Ingatan yang tak pernah lenyap dalam hidup Bardi sampai kapan pun.

Setelah dua pria tadi menghilang dari balik pintu kantornya, ingatan itu makin tajam. Bardi merasa semakin kesepian di antara orang-orang yang meminta keadilan padanya. Sekonyong-konyong ia melorot dari kursi dan menangis tersedu di situ. Ia buang mukanya ke jendela, gumpalan-gumpalan awan berwarna hitam mulai tampak menyeruak dari balik gedung-gedung.

Alangkah gelapnya. Dan tetesan air hujan pun berlari dari gedung satu ke gedung lain.

Arsip Cerpen di Indonesia