Boneka Salju

Di pinggiran Kota Edinburgh, di sebuah rumah batu, seorang kakek tua bernama Jhonur Davidson menyalakan kayu bakar di tungku penghangat ruangan. Beberapa hari yang lalu, ia dan cucu perempuannya yang sudah gadis, bernama Zinnia Jhondottir, menemukan seorang lelaki yang tertimbun salju di jalanan. Separuh tubuhnya hampir membeku dan tak dapat bergerak. Kakek dan cucu itu lalu membawa lelaki tersebut ke rumahnya. Tak ada pilihan lain karena jalanan menuju rumah sakit atau klinik telah tertutup salju tebal. Terlalu berisiko jika memaksakan untuk melintasi gunungan salju.

Tubuh lelaki itu kini masih terbaring lemah. Ia masih belum banyak bicara karena lidahnya masih kaku untuk digerakkan, bahkan sebagian alat geraknya belum tangkas benar sekalipun untuk bergeser dari duduknya.

“Ah, sebaiknya Tuan Farisir Fauzison beristirahat saja, berselimut atau menghangatkan tubuh dekat-dekat dengan tungku penghangat. Cuaca masih belum menentu, bahkan bisa jadi bertambah buruk,” ucap Zinnia.

“Apa sudah kau beri sup oatmeal, Zinnia?” tanya Kakek Jhon sambil menyalakan sebatang rokok.

“Sudah, Kek,” jawab Zinnia sambil membereskan mangkuk dan gelas untuk dibawanya ke belakang. Sebentar kemudian, gadis cantik berambut pirang itu telah kembali.

“Apakah keadaan Kota Edinburgh sudah pulih, Kek?”

“Wali kota dan tim penanggulangan bencana sepertinya sudah berbuat maksimal, tetapi salju seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Barangkali kita mesti bersabar.”

Mendengar pembicaraan kakek dan cucu, Farisir Fauzison tiba-tiba teringat anak dan istrinya. Tentu keduanya sedang menunggu kedatangannya. Za Gudny dan Zamira tentu cemas dan tak tahu keadaannya sekarang. Menyedihkan memang ketika tak bisa memberikan kabar kepada keluarga. Entah berapa lama ia akan tinggal di rumah itu menunggu salju mencair.

***

DARI kejauhan, Gereja Hallgrimskirkja seperti istana diselimuti salju. Bentuknya artistik berupa organ raksasa dengan menara tingginya. Di halamannya yang luas, Za Gudny melangkah meninggalkan tapak-tapak sepatunya di jalanan bersalju. Langkahnya menuju tangga menara lalu perlahan menaiki ketinggiannya. Sepanjang memanjat, matanya selalu menuju jalanan yang memungkinkan jika ayahnya pulang akan kelihatan dari tempatnya berdiri.

Arsip Cerpen di Indonesia