Boneka Salju

Setahun yang lalu, bersama ayah dan ibunya, Za Gudny menikmati keindahan musim dingin dengan bermain bola-bola salju. Konon, permainan ini sudah ada di Eropa sejak abad pertengahan. Dan, bagi keluarga Farisir Fauzison, mereka merawat tradisi itu setiap datang musim dingin. Meskipun tampak sederhana, diperlukan waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Sebab, bola-bola salju dibuat dari bulatan salju yang terus digelindingkan. Makin lama kian besar. Bola-bola salju itu dikenal dengan nama crust.

“Kau tahu Za Gudny,” kata ibunya saat itu, “crust ini dapat dibuat snowman orang-orangan salju.”

“Bagaimanakah caranya, Bu?” Za Gudny penasaran. Namun ibunya justru menunjuk ke arah ayahnya yang tengah menyusun bulatan-bulatan bola salju.

“Lihatlah, Za, ayahmu sedang membuatnya!”

Za Gudny tertegun. Ia lalu tersenyum melihatnya. “Seperti boneka?”

“Boneka salju, Za,” kata ayahya.

“Wah, indah sekali! Seperti panda.” Za Gudny mendekati boneka salju. Tangannya mengelus-elus kepala boneka. Ayah dan ibunya tersenyum.

“Apa kamu suka, Za?” tanya Ayahnya. Lelaki itu duduk berlutut meminta jawaban putri satu-satunya itu.

“Suka, suka sekali! Tapi sayang tak ada mata, hidung, dan mulutnya,” ujar Za Gudny.

“Tak berbaju juga, iya kan, Za?” kata ayahnya kemudian.

“Iya, tak pakai topi juga syal,” ujar Za Gudny.

“Wah, kamu cerdas Za,” ucap ibunya bangga.

“Lain waktu kita akan membuatnya dengan semau kita. Kita bisa menambahkan mata, hidung, mulut, memberinya baju, syal, topi, dan aksesori lainnya,” kata ayahnya.

Za Gudny mengusap air matanya yang meleleh. Ia masih menyimpan dan mengingat percakapan itu. Kembali pandangannya menyapu bersih halaman dan jalanan di sekitar Gereja Hallgrimskirkja. Sekalipun musim salju, cahaya matahari hari itu berhasil menerobos udara dingin. Orang-orang keluar dari rumahnya untuk bermain salju. Za Gudny melihatnya dan ia bertambah rindu. Ah Ayah, mengapa tak pulang?

***

ZAMIRA Junaididottir cemas. Za Gudny tak ada di rumah. Semula ia menduga putri tercintanya sedang bermain boneka di dalam kamarnya. Namun, saat ditengok, dia tak ada. Ia segera meraih mantel dan topi lalu keluar mencari anaknya.

Arsip Cerpen di Indonesia