Boneka Salju

Boneka-boneka salju telah berdiri menyambut Za Gudny dan Zamira. Jumlahnya belasan. Keduanya terpana melihatnya. Namun lelaki itu justru duduk membelakanginya sambil terus memadat-madatkan bulatan salju.

“Ayah, Ayah Farisir Fauzison?”

Lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Ia berdiri perlahan lalu membalikkan tubuhnya. Za Gudny dan ibunya terkesiap.

“Ini boneka-boneka salju untukmu Za,” ucapnya luruh.

Za Gudny dan ibunya segera menghambur ke arah lelaki itu. Ketiganya berpelukan dengan bertangisan.

“Maafkan Ayah karena baru bisa pulang.”

“Tak apa Ayah, tak apa.”

“Asal Ayah pulang, kami sudah senang. Terima kasih Tuhan, engkau mengabulkan doa-doa kami.”

Farisir Fauzison kemudian menceritakan semuanya. Za Gudny dan ibunya menyimak. Sesekali mata mereka berkaca-kaca.

“Tapi Ayah selalu ingat dengan boneka salju.”

Za Gudny tersenyum bahagia. Ia memeluk ayah dan ibu seperti tak mau lepas lagi.

 

Indramayu, 2019.

Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu. Menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya antara lain kumpulan cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek (Karyapedia Publisher, 2017), novelet Bingkai Perjalanan (LovRinz Publishing, 2018), dan antologi puisi Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian (Rumah Pustaka, 2018).

Arsip Cerpen di Indonesia