Rupanya matahari muncul juga, batinnya gembira. Ia berpikir sejenak. Lalu diputuskan untuk mencari Za Gudny di halaman Gereja Hallgrimskirkja. Anak itu pasti bermain-main di menaranya, pikirnya.
Di halaman gereja tampak ramai dengan orang-orang yang ingin beribadah, berkunjung, ataupun bermain salju. Semula, Zamira Junaididottir akan langsung menuju menara untuk mencari Za Gudny, tapi ia urungkan sejenak. Entah mengapa ia ingin sekali berdoa. Menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan. Langkahnya kemudian telah memasuki ruang peribadatan gereja.
Siang belum sepenuhnya diturunkan dari langit, sejenak Zamira Junaididottir menjadi hamba Kristus yang lebur dalam bacaan mazmur-mazmur Daud ke dalam isyarat hatinya yang menghujan air mata. Segenap permohonannya ia sampaikan dengan khusyuk dan menggenapkannya dengan iman. Lonceng besar gereja berdentang pelan digoyang burung-burung yang juga menikmati keindahan musim dingin.
Zamira Junaididottir meninggalkan gereja menuju menara. Ia baru saja melintasi seorang lelaki bertopi yang sedang asyik membuat snowman. Ia sebenarnya ingin melongok wajah lelaki itu, tapi perasaannya belum tenang jika belum bertemu Za Gudny. Sehingga ia tak lagi memedulikannya.
Dia mendaki tangga-tangga menara itu. Zamira Junaididottir berpapasan dengan beberapa orang yang hendak turun dari menara. Ia bisa saja bertanya tentang keberadaan Za Gudny di puncak sana. Namun, pemikiran itu ditepisnya. Sampai di puncak, Zamira tak melihat siapa-siapa kecuali seorang bocah perempuan yang terus menatap seseorang di bawah sana. Bukankah seseorang itu adalah lelaki yang dilewatinya sebelum naik ke menara tadi, pikir Zamira.
“Za Gudny, siapa yang kamu lihat, Nak?”
“Oh Ibu, rupanya Ibu ada di sini.”
“Ibu cemas, makanya Ibu mencarimu. Apa yang kamu lihat di bawah sana?”
“Sepertinya orang itu sedang membuat boneka salju.”
“Iya benar, Za.”
“Apa Ibu kenal?”
“Entahlah, Ibu tak sempat melihat wajahnya.”
“Sepertinya Za kenal. Ayo Bu kita turun.”
Keduanya turun dari menara. Tangan Za Gudny menarik-narik lengan ibunya agar bisa berjalan lebih cepat. Selama perjalanan menuruni tangga, tak ada percakapan lain kecuali ucapan Za Gudny, cepat Bu, Za yakin orang itu yang kita tunggu.