Bawangin

Di puncak Tiwallung seseorang memandang pelangi
dan nubuat pun terbentang dari Wuidduanne
orang-orang berebut menyalakan lilin dalam sunyi pantai
seorang suci menggedor-gedor pintu langit
di pojok gerbang yang perkasa melantunkan doa-doa
mantram-man tram sorga yang melayang bersama kabut
singgah di pohon-pohon teduh juga belukar yang terbakar
“Aku bertapa di bukit ini, di kedalaman Lirung yang hijau
mendendangkan pujian langit gemanya membayang di ujung-ujung Pasifik!”
Tak ada yang mesti diperebutkan di sini karena bagimu
Tuhan tumbuh dalam tubuh, bermekaran dalam jantung
seperti kabar yang dikekalkan debur ombak dan teguh karang:
diwartakan pada yang rendah hati, tempat sunyi yang menjadi tempat tinggalmu!
Dan warta itu menjelma seutas rantai tangga langit
tempat seseorang tertatih tatih menjumpai Tuhannya
saat matahari dikepung bintang-bintang
di Sabaat yang suci di bawah naungan mawwu warlada
di dalamnya jagat bungkuk dalam Adat Bawangin
Mussi-Jkt. 017/019
Catatan:
Mawwu warlada (bahasa Talaud) berarti Tuhan Pemelihara.
Adat Bawangin: Aliran kepercayaan di Desa Mussi di Pulau Lining, Talaud, yang disebarkan oleh seorang tokoh bernama Bawangin.