Puisi-puisi Tjahjono Widijanto (Kompas, 09 Maret 2019)

Talaud
seperti mutiara berkilauan di rongga-rongga mata
matahari jatuh di permukaan laut menyulap ombak jadi warna pelangi
di langit, bidadari-bidadari samodra berkejaran
menjelma duyung jelita saat kaki menyentuh buili
camar-camar beterbangan dengan keriangan bocah laut mengejar ikan
di pantai, bulan menyelimuti bakau menyentuh pucuk-pucuk kelapa
di cakrawala gambar-gambar bintang menjelma mata angin
wewangi hutan jadi sempurna bersama aroma cengkeh dan pala
pohon-pohon dan ceruk-ceruk goa runduk dalam bayangan
rum ah sempurna dari tengkorak-tengkorak beserta jejak
riwayat-riwayat yang tersimpan di kebisuan karang
sabar menunggu hempas gelombang
seperti perawan yang sabar menghitung purnama
menunggu kekasih datang dari balik pasang lautan
bersama bau tuna bakar dan keringat nelayan
esok, fajar adalah leret-leret cahaya sorga
bocah-bocah riang berjalan menenteng gate-gate atau jupi
berebut mencebur ke laut yang menjelma warna kupu-kupu
Melonguane-Ngawi, 017/019