Tanpa sepengetahuan Satim, Ramdola memang pernah memeriksakan diri ke dokter. Sampai dua kali. Ternyata ia punya masalah kesuburan. Tiada vonis yang lebih buruk bagi seorang lelaki matang selain tertutupnya hasrat beroleh keturunan. Aib itu ditanggungnya sendiri, terpupuk, dan menyemai dalam waktu. Mendengar kalimat Satim, otaknya gaduh. Ia tak ingin memercayai gelapnya bisikan-bisikan di benak yang deras menyudutkan istrinya sendiri.
Tetapi bisikan itu semakin-hari semakin kencang. Penjelasan takdir apa yang bisa mendamaikan pertentangannya dengan ilmu modern selain hal-hal gaib, yang tentu saja tak membutuhkan pertimbangan empiris apa pun, menyorongkan niatnya pada sosok yang pernah ia kenal di masa lalu. Seseorang yang sangat ia percaya.
Sebelum sekarang, Ramdola adalah bujang lugu yang hidup sebagaimana lazimnya pemuda-pemuda seumuran di kampung. Setiap pagi ia membantu Ibu di sawah. Saat siang, giliran bulir-bulir jagung milik Wak Anok harus ia jaga dari ancaman hama. Ritualnya tak jauh dari urusan sawah dan ladang. Hampir tiap malam main gaple hingga larut, tak jarang pula Ramdola iseng-iseng bertaruh. Sesekali menang. Selebihnya pecundang. Upah harian acap menumpang saja hinggap di dompet. Jangankan menabung, mendekati Satim pun tak cukup hanya bermodalkan cinta.
Sampai suatu ketika ia dengar sang kekasih pujaan hendak dilamar seorang pria dari kota, Ramdola gegas mencari jalan pintas terampuh untuk menangkalnya. Solusi yang didapat dari obrolan usil teman segaple mengerucut pada satu nama: Ki Mantis. Orang aneh dari seberang. Mitosnya, ia punya aji-aji manjur pengentas segala perkara asmara dan rezeki. Cocok! Tak berulur-pikir, ia datangi kediaman Ki Mantis di bukit Hamalangin.
“Kau ambil secentong air dari tujuh sumur di tujuh kampung yang berlainan. Lalu guyur ke kepala saat malam Jumat. Sambil baca ini,” tutur Ki Mantis memberi secarik kertas bertuliskan sesuatu. Bibirnya lalu komat-kamit tak keruan.
Rapalkan mantra tujuh puluh kali sebelum mandi. Jangan potong kuku. Jangan dekati jemuran. Tujuh hari mutih. Pantang minum susu. Itu perintahnya.
Saat hendak pamit, Ki Mantis berdeham, “Tuah kedigdayaan seringkali meminta petaka. Cukup sedikit tumbal untuk menolak bala.” Ramdola mengerti. Ia hanya kelupaan. Beberapa lembar uang berpindah tangan.
Tak ada salah mencoba, pikirnya. Angan-angan tinggi mempersunting Satim seraya perbaikan nasib nyatanya lebih keras dari setitik kejernihan nalar. Secepat bajing derap kakinya melangkah liar. Di sepanjang jalan, tak luput mantra-mantra itu mulai ia rajah di luar kepala, sambil membayangkan masa depannya yang indah bersama Satim. Selepas membelah titian arus sungai kecil yang tak kunjung dibuatkan jembatan itu, ia mendengar rambat suara dari kejauhan. Tepatnya di warung Mak Sareh. Lambaian tangan memanggil.