“Mana kewarasanmu, bodoh! Ini darah dagingmu. Kau kira dukun gila itu melebihi kuasa Tuhan?! Eling. Kamu hanya ingin memuaskan imajinasimu sendiri.”
“Semuanya terjadi, Sayang. Semua keinginanku tercapai. Kamu tak mengerti.”
“Dengar. Aku menerimamu dulu karena kutahu perasaanmu tulus. Aku mengenalmu sejak kecil. Aku kira setelah menikahi orang yang kita sayangi, seorang lelaki dapat mengubah perilaku buruknya. Dan itu berlaku untukmu. Aku tahu kebiasaanmu yang suka berjudi. Tapi aku juga tahu kamu orang yang tekun. Pekerja keras. Semua yang didapat sekarang, karena kamu bekerja keras. Takdir-Nyalah yang mempertemukanmu dengan Jatmika. Bukan karena mantra si dukun gila!”
Suasana hening. Kata-kata tenggelam di kepala masing-masing.
“Tapi aku mandul, Satim.” Ramdola akhirnya menyahut, nyaris tak terdengar.
“Apa yang tak mungkin di dunia ini?”
“Semuanya bisa dan harus terjadi karena suratan. Kamu percaya padaku, kan?” tutur Satim merangkul Ramdola.
Ramdola menanar. Dilihatnya kembali stoples itu. Kosong. Tak berasa apa pun di telapak tangannya. Angin dari luar menusuk, seolah berbisik sesuatu. Satim menatap sepenuh harap. Tiba-tiba Ramdola berdiri meraih stoples itu, beringsut pergi.
“Mau kemana?”
“Ke bukit Hamalangin. Ki Mantis. Dia harus membuat isi stoples ini kasatmata. Jika tidak, ini penipuan namanya. Sudah kubayar mahal-mahal!”
Satim mematung, tercengang menatap kelakuan suaminya.
Bojongsoang, Januari 2019
D. Hardi. Penulis cerpen, puisi, dan resensi menetap di Bandung. Karya terakhir, buku: antologi puisi bersama “Kepada Toean Dekker” (Dinas Dikbud Kabupaten Lebak 2018), antologi cerpen bersama “Cerita dari Koding” (Jejak Publisher 2018), antologi puisi tunggal “Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari” (Jejak Publisher 2019).