Berburu Genderuwo

Beberapa orang bercengkerama sembari seruput kopi dan singkong; tradisi orang kampung sehabis lelah bertempur dengan terik. Dari sekian wajah yang dikenal, satu orang menyita perhatian. Sosoknya serasa asing tak asing.

“Tampak semringah rautmu Ramdola. Masih ingat aku?” ujarnya mendekat.

“Jatmika?”

Putra pertama Mak Sareh baru pulang dari rantau rupanya. Sudah sekian tahun berpisah sejak ingatan masa kanak bermain gundu atau boi-boian, ia pergi ke ibu kota ikut pamannya dan belum pernah kembali. Si jago egrang itu kini terlihat resik, cemerlang, dan sukses.

Keduanya langsung asyik mengenang masa lalu. Membicarakan perkembangan desa, keluarga, dan teman-teman yang lain. Membicarakan Satim. Jatmika hafal persis kesukaan Ramdola pada Satim sejak usia masih ingusan. Menanyakan hal itu, wajah Ramdola berubah lesu. Tanpa didesak, ia menceritakan sendiri perihal Satim yang akan dilamar oleh orang lain. Perihal dirinya yang tak jauh akan berakhir sama seperti teman sebaya lainnya di kampung ini, yang tampak tak menjanjikan perubahan apa-apa lagi.

Mendengar keluh-kesah itu, Jatmika menawarkan sesuatu.

“Tak janji, tapi aku bakal tanyakan ke bos, apa ada tempat kosong buat kau bisa bekerja di kapal. Tunggu saja kabar.”

Selang beberapa pekan kemudian berita baik itu datang. Ramdola harus ke ibu kota. Ia diterima bekerja sebagai ABK di sebuah kapal tanker. Pekerjaan yang menuntut kekuatan fisik. Bukan masalah berarti untuk Ramdola. Upahnya sepadan. Penghasilannya berlipat-lipat lebih besar dari sebelumnya. Di laut lepas sewaktu malam bergemintang, ia tercenung di jendela kabin.

“Mungkin inilah jawaban tuah azimat itu.” Pikirannya tertuju pada Ki Mantis, setelah ia tuntas menjalani ritual yang diperintahkan beberapa hari setelah pertemuannya dengan Jatmika.

***

Sosok itu pula yang harus ia datangi setelah pengakuan Satim belum lama ini. Cukup senang Ki Mantis mendapati Ramdola yang telah berubah semenjak terakhir berkunjung. Awalnya lupa-lupa ingat. Setelah diceritakan, ia tertawa.

“Sudah jadi pegawai kau sekarang.” Ramdola menyeringai satir.

“Kali ini ada peristiwa genting apa sampai kau harus kembali menemuiku?”

Arsip Cerpen di Indonesia