Narasi Gerimis

Kenangan Ifta

Malam itu Jenat menelepon, mengabarkan lagi merayakan kelulusan di kantin belakang kampus, makan gudeg dengan teman tapi lebih banyak bercerita dan tertawa denganku. “Aku akan keluar kampus, mencari pekerjaan, dan tak akan kembali lagi—bahkan tak akan bertemu dengan teman-teman yang juga lulus dan pulang kampung,” katanya. Aku tersenyum. Semester ganjil ini akan habis dan aku akan menyelesaikan semua di semester depan. Lolos sidang, jadi sarjana, wisuda, pulang kampung. Masuk kehidupan nyata, membawa kenangan tentang banyak teman kampus serta pondokan. Seperti biasa, seperti seharusnya—sesegera melupakan dengan peranan lain.

Ada haru menyumbat kerongkongan sekaligus mengerti: apa yang disirayakan Jenat. Bukan keberhasilan menempuh kuliah dalam empat tahun, tapi keharuan mulai menarik garis, awal untuk meninggalkan semua serta masuk ke kehidupan baru. Suka duka dan teman jadi transenden di luar diri, seiring dunia kuliah ditinggalkan dengan total mencari celah di dunia kerja. Akankah semua lancar? Aku tersentak. Kaget saat Jenat berteriak, bilang: besok akan berangkat dengan bus patas pagi agar siang sampai di Surabaya, lantas berdua saja merayakan kelulusan dengan makan siang, jalan-jalan, nonton, dan seterusnya.

“Kamu harus siap merayakan, Ta,” katanya. Dan aku berjanji akan menunggu di pendapa kampus, depan gedung rektorat. Jenat tertawa. Aku bilang, “Besok, mulai jam 11.00—hari itu aku ada janji dengan dosen pembimbing, tapi kapan itu tepatnya—, aku menunggu di pendapa, terus menunggu sampai malam, serta terus menunggu di sepanjang malam, sampai fajar terbit dan hari merembang mau pagi.” Di seberang itu Jenat terbahak—itu tawa terakhirnya. Seharusnya aku ke Jogja, memsiberikan ucapan selamat, dan berdua merayakan—sesuai perjanjian, ketika ia memilih kuliah di Jogja—sedang aku di Surabaya. Tapi, aku telah janji dengan dosen pembimbingku, karena itu Jenat memutuskan akan datang untuk merayakan.

Deal!”

Kami setuju. Sepanjang malam—bahkan sampai kini—: aku gelisah. Seharusnya aku lulus dulu sehingga Jenat datang ingin memberi ucapan selamat pada, karenanya aku jadi pemenang –dan menikmati kenangan lulus kuliah dalam empat tahun. Tapi, kehendak-Nya bicara lain. Bukan tak mampu, tapi sakit, dan terlambat menyelesaikan satu mata kuliah. Kini Jenat jadi juara, menemui untuk mengajak aku—si pecundang—merayakan kemenangan. Tapi, apa itu—sampai kini aku memikirkannya, dan merasa bersalah pernah mempersoalkan—: penting? Bukankah berkali-kali Jenat bilang bila kami tak bersaing? Hanya ada kesepakatan buat segera punya pegangan hidup, lantas berusaha punya pijakan supaya bisa membina keluarga?

Arsip Cerpen di Indonesia