Narasi Gerimis

Metamorfosis Jenat

Langit mendung memekat. Dipenuhi gayutan awan mendung. Surabaya kekal tenggelam dalam saputan cat kelam, meski sering coba dilawan dengan lampu-lampu, kesibukan, dan hiburan. Sia-sia. Tidak ada angin. Yang bersihembus ke daratan, atau yang menderas menuju lautan. Berbulan. Bertahun. Lama. Dan, senja itu—seperti pada sembilan tahun lalu—: hujan turun. Roboh. Segera selesai –meski gerimis memanjang. Aku tersentak, ketika aku melihat Ifta bergegas—tampak kurus, lebih dewasa dengan beberapa uban pada rambut yang hanya diikat buntut kuda—, serta seperti bisa melihat aku karena ia berlari mendekatiku. Otomatis, penuh kerinduan—di sembilan tahun aku menunggu, berharap ia bisa melihat aku menunggu di pendapa—: berpelukan.

Setelah itu, kini, aku tidak terjangkar lagi ke pendapa, di depan gedung rektorat. Sehembus angin malah seperti mengajak serta mengapungkan—menerbangkan. Mengangkat lebih tinggi dari ketinggian yang kuasa diukur serta diingat, di mana aku, kini, pelan memasuki ruang tidak ingat apa-apa. Yang lebih pekat dan kental dari tir membungkus ingatan, seiring waktu yang tak berdetik lagi itu aku diletakkan pada rak. Tak ada lagi yang bisa ditulis—hanya kenangan dan mengenangkan. Semua lebur. ***

 

Beni Setia. Sastrawan kelahiran Bandung. Selain cerita pendek, juga produktif menulis esai sastra dan puisi.

Arsip Cerpen di Indonesia