Narasi Gerimis

“Ada cinta di antara kita. Ada yang harus diperjuangkan supaya cinta itu punya pijakan—konkret,” katanya. Saat itu aku melengos –tetap merajuk agar dicumbuinya dengan pemanjaan. Dulu. Saat Jenat berkeras mengambil kampus yang berbeda. Dan tadi Jenat bilang, akan telat karena bus terjebak macet. “Ada kecelakaan di Saradan—hari itu ada truk pengangkut pupuk terguling di tengah jalan—, jadi terhambat, malah antreannya sekitar empat kilometeran, sampai ke Caruban,” katanya lewat HP. Dan di selepas tengah hari itu, aku memesan es jeruk dengan dua lumpia. Santai—mesti udara gerah memeras keringat dari jangat– sambil mengawasi pendapa yang senyap itu—dan tampaknya sedang disiapkan buat latihan teater.

Lalu langit runtuh, gegayut mendung itu jadi hujan, lebat menghunjam seperti si gentong pecah alasnya. Deras. Hanya sesaat. Meski gerimis kekal, jadi kengungunan tirai kusam yang hadir sepanjang sore. Sulurnya liat dan lembut berjulai-julai di antara deras berpuluh gelendong air jatuh dari kanopi pepohonan—terutama bila angin lewat. Aku mencoba menelepon, tapi tidak ada kontak. Apa sinyalnya demikan buruk karena hujan? Apa low battery? Aku menelan ludah. Memperhatikan sisa-sisa pelangi yang tak utuh membentuk busur di langit dan berharap mata kami bertemu pada titik yang sama—hal yang bertahun-tahun dilakukan ketika rindu. Kontak batin yang melegakan. Yang membuatku tabah di Surabaya meski Jenat di Jogjakarta.

Apa yang bisa memisahkan kami?

Ifta Pulang dari Jogjakarta

Aku ambil S-2 di kampus, segera setelah diterima jadi asisten dosen. Aku ingin jadi dosen agar tidak meninggalkan kampus Lidah Kulon. Sangat bersyukur sebab tak diperlukan alasan bila berlama-lama di kampus—berpura-pura mengerjakan tugas atau memeriksa tugas mahasiswa di pendapa sore hari. Saat senggang, tanpa memedulikan siapa pun, aku ke kantin, memesan makanan atau hanya minuman agar bisa berlama-lama mengawasi pendapa—membayangkan: Jenat bergegas, tertawa, dan berteriak, “Maaf, Ta—terjebak macet.” Tapi, tak mungkin Jenat sampai, bergegas datang, karena hari itu busnya mengalami kecelakaan di Saradan—dan hari itu ia meninggal.

Sejak itu, dari bulan ke bulan: aku selalu menunggu—meski yang datang hanya bayang. Berharap, sekali waktu muncul—hanya terlihat olehku—dan bilang: tak bisa segera datang karena jalanan macet dan antreannya mengular sampai empat kilometer, tapi berusaha datang meski akan sangat terlambat. Tersenyum –tersipu-sipu. “Ta, kau bersumpah akan menunggu semalaman, sampai pagi menjelma, sampai malam datang lagi, kan?” katanya. Aku berkaca-kaca. Sejak saat itu—kapan—: aku menatap pendapa sepanjang bulan, sepanjang minggu, setiap hari—kalau tidak disibukkan kerja—, serta: tak kuasa menahan tangis. Selalu berlinang duka meski tak pernah terisak.

Arsip Cerpen di Indonesia