Aku ambil S-2. Karena itu total mengabdi—sambil menunggu kedatangan Jenat—, sambil mencari kesempatan ambil S-3, dan akhirnya dikabulkan kuliah di Jogja. Kota tempat Jenat berkuliah, tinggal, dan empat tahun berjuang agar lulus S-1, kota tempat Jenat berancang-ancang menata nampan kehidupan tempat segala cinta itu ditugalkan, mengecambah, bertunas, dan tergelar menjadi sulur silsilah—yang entah membelit ke mana dan membuhul siapa. Jogja. Jenat. Mimpinya buat kebersamaan di masa depan. Itu yang coba aku sesap selama kuliah. Dan, sekarang, setelah lolos sidang meskipun belum wisuda—seperti dilakukan Jenat—, aku bersigegas naik patas dari Jogja, sambil mengharap hujan turun ketika bus memasuki Sidoarjo.
Berharap sesampainya di Bungurasih tinggal gerimis penghujung hari. Matahari sudah tergelincir di ujung lengkung langit barat, tapi sinarnya masih kuat menembus tirai gerimis: membentuk secuil busur pelangi tidak sempurna. Aku—membayangkan sosok Jenat—akan terpejam di taksi sambil sesekali menatap pelangi yang tercuil itu, sambil kuat berharap mata kami bisa bertemu tatap dalam busur pelangi dan merasuk kedalaman batin. Apa mungkin bila Jenat ada di sebalik cakrawala sedang aku di sisi lain? Terisak—tanpa peduli reaksi si sopir. Aku, kini, bisa membayangkan kecemasan Jenat, saat harus bergegas ke pendapa fakultas—kini bahkan Jenat tak bisa ke mana-mana. Dan terbayang, sekarang, taksi itu membelok ke fakultas, ke halaman parkir.
Ifta Pergi ke Pendapa
Aku meraih backpack—cuma itu, lainnya di Jogja, di kamar kos—, dan di senja rembang yang senyap itu aku melangkah menuju pendapa yang sunyi. Ada sisa basah dari gerimis yang reda. Lampu belum dinyalakan sebab malam masih terlalu jauh dan kegelapan masih terkantuk-kantuk di sela-sela daun. Terbayang: aku ini Jenat, yang ragu-ragu menemui Ifta, yang telah bertahun menunggu. Tercangkul serta berharap—dalam cemas—di pendapa. Karena itu, di dalam ragu, dengan rasa takut dan malu, aku memaksakan diri datang, untuk sekadar minta maaf dan merayakan kelulusan yang amat diharapkan. Langkah awal dari impian bersama –angan yang dibina dalam keterpisahan aku di Surabaya dan ia di Jogjakarta—sembilan tahun lalu.
Dan kini aku seperti melihat Jenat setengah bersisandar di tiang gerbang selatan, tersenyum, melebarkan kedua tangan mengundang hamburan yang akan disikuncinya dengan pelukan. Aku gemetar. Tertegun dan memejam. Ketika pelan membuka mata lagi: segala kembali sunyi di dalam remang, meski aku tahu—aku telah menemui Jenat yang di sembilan tahun ini berusaha untuk menemuiku di pendapa ini. Pasti. Dan kini, dengan kedatangan tergesa pada petang ini—dalam perasaan bangga lulus S-3 itu—: aku tidak lagi merasa sedang menunggu Jenat dan ditunggui Jenat. Semua sudah tuntas. Ia dan aku lebur. Bersatu. Menyatu—meski terpisah berbeda dimensi. Dan aku tahu: esok aku harus berziarah—merayakan secara fisik.