Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila

Buktinya, badanku tetap sebesar badak dan makanku tiada henti. Kadang-kadang sehari kuhabiskan empat mangkuk mi ayam plus dua bungkus roti bolu dan beberapa kemasan teh botol. Artinya, akan selalu ada orang yang memberiku uang. Tuhan selalu saja mengerti dan mengabulkan doaku setiap kali kuamati punggung seseorang dan kuniati untuk meminta uang darinya.

“Memang betul Tuhan merestuiku karena Dia menciptaku sebagai sarana orang banyak dalam menuju surga,” kataku kepada Bendi Afkir, seorang pengamen yang dahulu kala bermimpi jadi jenderal dangdut, tetapi gagal. Waktu itu kami makan di salah satu warung.

“Manusia koplak sepertimu benar-benar memalukan,” jawabnya.

Aku dan Bendi Afkir memang biasa makan berdua, dan dia biasa menyebut diriku sebagai manusia paling memalukan, manusia kalah, manusia berotak sapi, dan lain-lain. Aku diam saja dan tidak protes, karena apa pun yang kukatakan sudah pasti akan dapat dia bantah.

Meski begitu, Bendi Afkir sering meminta uang kepadaku, ketika dia tidak dapat uang cukup dari ngamen. Kadang dia menyesal dulu bermimpi menjadi jenderal dangdut, bukannya menjadi pengusaha yang tentu tidak kalah pamor dengan raja dan pangeran dangdut sebagaimana kondisinya saat ini. Bendi Afkir sering menangis apabila teringat keluarga di rumah.

“Ibu pasti menangis melihatku begini di sini, hari ini, duduk di suatu warung nasi bersama orang menyedihkan. Lihat tubuh gendutmu ini, mata julingmu, segala padamu. Tidak ada apa pun yang membuatmu sadar untuk bekerja jujur ketimbang minta uang. Setiap kali kudengar kamu bilang, ‘Minta uang dong,’ rasanya dunia seperti roboh dan di kepalaku semuanya serba abu-abu. Barangkali ibu menyesal melahirkanku dua puluh tujuh tahun yang lalu,” katanya.

Aku tidak pernah ambil pusing omongan Bendi Afkir. Biasanya kami berpisah usai dia dengan puas menuduhku sinting dan tidak bertanggung jawab, juga pemalas, lalu kami ketemu lagi beberapa jam setelahnya dan makan berdua seperti ini untuk bicara hal-hal yang tidak jauh berbeda.

Aku tidak pernah bosan makan dengan Bendi Afkir, sekalipun dia tidak pernah ada niat membayar utang-utangnya. Dia selalu bilang uangnya tidak cukup. Padahal, Bendi Afkir mengamen di mana-mana sambil membawa suatu alat yang dibuat dari beberapa tutup botol yang dihimpun bersama sebatang kayu. Bendi Afkir laki-laki, tetapi dia tidak malu memakai rok dan berbedak seperti badut. Aku tahu dia terlihat sangat cantik dan tidak tampan, tetapi pernah kami buang air bersama di suatu sungai dan kali itulah aku tahu dia laki-laki.

Arsip Cerpen di Indonesia