Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila

Tapi, kukatakan kepada Bendi Afkir bahwa itu tidak mungkin. Dia tahu jika aku tidak makan hari ini mungkin aku masih hidup. Baru sampai besok lusa, jika aku benar-benar tidak makan apa pun, aku akan mati di pasar ini atau di mana pun yang tidak jauh dari pasar ini. Intinya, kalau aku tidak makan, baru aku mati.

Bendi Afkir kesal dan mengaku tidak tahu maksudku. Lalu kuingatkan dia bahwa di tempat fotokopian, sekalipun aku tidak kerja di sana, aku tahu benda-benda seperti buku dan setumpuk kertas, apabila ditaruh di sebuah kardus, yang lebih dulu diletakkan selalu di bawah.

Aku punya uang cukup untuk makan dan tidak mati dalam waktu dekat, dan justru Bendi Afkir yang sering minta uang. Jika misalnya kuputuskan untuk tidak memberinya uang lagi, dia bisa mati dan ditaruh lebih dulu dalam kotak yang bernama neraka. Maka, dia seharusnya berada di neraka bagian bawah.

Sejak kukatakan itu, Bendi Afkir tidak kelihatan batang hidungnya. Aku tidak tahu di mana dia tinggal. Jadi, kucari jenderal dangdut itu ke sekitar warung yang biasa kami datangi. Aku tidak menemukan Bendi Afkir dan aku kelaparan. Harusnya aku tidak telat makan. Jadi, saat itu juga aku makan tanpa Bendi Afkir. Selesai makan dan membayar apa yang kumakan, aku kembali mencarinya.

Aku memang harus mencarinya karena sesuai sabda Tuhan, seharusnya aku ada untuk membuat orang-orang lain dengan lancar pergi ke surga suatu saat nanti. Aku tidak tahu kenapa Bendi Afkir berpikir dia bakal masuk neraka. Aku yakin dia masuk surga jika mau sembahyang dan sesekali membayar utang kepadaku. Seharusnya dia tahu dia punya kesempatan.

“Kenapa kau kabur, wahai jenderal dangdut?”

Aku kelelahan mencari Bendi Afkir sampai kira-kira sepuluh jam lamanya dan pingsan di depan pagar kuburan pada subuh hari itu. Lalu aku bermimpi melihat kakek berbaju rombeng mendatangiku dan memberiku sebutir telur. Lalu kumakan telur itu dan aku kenyang. Tidak lama kemudian, masih dalam mimpi itu, perutku mulas. Aku buang hajat begitu banyaknya sampai-sampai semua orang yang berjalan di depan kuburan itu menghindariku dan berkata, “Nggak sopan, ya!”

Arsip Cerpen di Indonesia