Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila

Aku tidak tahu rumah Bendi Afkir, karena katanya itu bukan urusanku. Aku sendiri tinggal di pasar dan kadang-kadang pindah ke seberang pasar, ke sebuah pagar kuburan, dan di sana dapat tidur sepuasnya tanpa diganggu, di bawah sebatang pohon yang tidak kutahu jenis pohon apa.

Di sana aku membayangkan dapat berbagai pekerjaan dan tidak betah, lalu Tuhan bersabda, “Kamu dicipta bukan untuk bekerja keras, tetapi sebagai sarana orang banyak menuju surga!”

Lalu aku pergi dari tempat-tempat kerjaku dan bos-bos yang kutinggalkan marah, dan aku tidak peduli. Kemudian aku pergi ke pasar ini dan meminta uang kepada semua orang dengan perasaan lapang.

Aku sering membayangkan itu setiap kali becermin. Maksudku, suatu sabda dari langit, yang mendukungku untuk semua ini. Aku tidak pernah kurang uang, tapi aku pun rela tidak menyewa kamar demi membuat Bendi Afkir senang. Jika uang yang kudapat kupakai semua, aku tidak dapat membantu Bendi Afkir dan beberapa temanku di pasar. Mereka semua rata-rata tidak punya keluarga.

Setahuku, aku juga tidak ada keluarga, karena dulu tahu-tahu aku sudah hidup tanpa bapak-ibu dan mengais-ngais makanan dari mana saja. Aku juga tidak dapat membaca, meski sudah diajari beberapa kali oleh orang-orang baik yang hampir selalu kutemui di mana saja.

Orang-orang ini memaksaku membaca, tetapi aku bilang tidak bisa. Aku tahu bedanya huruf O dan Q, tapi aku malas. Jadi, aku putuskan bahwa membaca itu bukan sesuatu yang penting.

Mungkin karena sudah takdirnya aku tidak bekerja di mana-mana dan hanya jadi sarana orang banyak menuju surga, maka timbul rasa malas dalam dadaku. Aku berpikir itulah anugerah Tuhan. Karena jika tanpa orang sepertiku yang malas dan membuat-buat wajah melas agar orang bersimpati, mungkin saja tidak ada yang ingat bersedekah dan tiap orang dewasa di dunia ini nanti dibakar di neraka. Itu tidak seharusnya terjadi, kukira.

Bendi Afkir tidak setuju waktu kukatakan hal itu. Jika mereka yang memberi uang kepadaku masuk surga, berarti semua yang meminta-minta uang akan masuk neraka?

Bendi Afkir dengan kesal berkata, “Kalau aku masuk neraka, harusnya kamu juga masuk neraka. Aku berada di neraka paling atas dan kamu paling bawah. Karena aku masih bekerja dan kamu tidak bekerja. Aku tahu, aku mungkin masuk neraka karena tak pernah sembahyang dan bahkan kadang-kadang meragukan pertolongan-Nya. Tapi, aku tahu Tuhan bilang, orang hidup harus kerja. Setahuku itu. Dia tidak menciptakan orang-orang bodoh dan kalah untuk jadi pengemis!”

Arsip Cerpen di Indonesia