Sejak Sulu Bayung terpancang di masjid, ayahku yang saat itu telah menjadi imam menggantikan kakek, mengaku menyaksikan keajaiban-keajaiban. Menurut cerita ayahku, masjid kami selalu saja penuh oleh jamaah yang berdatangan dari kampung-kampung yang jauh. Selepas salat mereka duduk melingkar di hadapan Sulu Bayung dan meminta segala keberkatan. Ada yang sekadar mencium Sulu Bayung sembari berdoa dan ada pula yang menyiramkan air ke arah kayu keramat itu untuk kemudian diusap dan dibasuh pada bagian tubuh mereka yang terluka. Ajaibnya luka-luka itu sembuh!
Akibat keajaiban-keajaiban Sulu Bayung akhirnya nama kampungku pun semakin masyhur. Orang-orang yang berziarah ke masjid itu semakin hari semakin ramai. Ada yang datang sendiri-sendiri dan ada pula yang mengajak kawan satu kampung untuk menguji kekeramatan Sulu Bayung yang terpancang megah di tengah-tengah masjid. Karena pengunjungnya telah semakin ramai, ayahku mengusulkan untuk memasang celengan di kayu keramat itu. Usul ayahku diterima oleh para pengurus masjid dan tokoh-tokoh kampung. Tanpa menunggu lama, Apacut Beuransah pun langsung membuat sebuah kotak kayu sebagai celengan. Apacut Beuransah adalah tukang perabot paling terkenal di kampung kami. Kononnya dia dapat bekerja dengan mata tertutup. Dan hasilnya cukup rapi. Untuk kotak celengan Sulu Bayung dia tidak meminta upah. Dia cuma meminta kepada ayahku agar namanya ditulis di kotak itu, “Untuk keberkatan agar mudah rezeki,” kata Apacut kepada ayahku. Tanpa harus berdebat ayahku pun menerima permintaan Apacut Beuransah.
***
Sejak Sulu Bayung dilengkapi celengan, pengunjung masjid semakin bertambah karena selain meminta keberkatan, mereka juga bisa bersedekah. Aku masih ingat betul, saat itu ayah selalu memintaku menghitung uang dalam celengan Sulu Bayung. Usiaku saat itu baru menginjak lima belas tahun. Pernah beberapa kali tanpa sepengetahuan ayah, aku menyembunyikan beberapa keping uang dari celengan keramat itu untuk membeli mie goreng di kedai Kak Rakibah yang tak jauh dari masjid.
Sebagai anak imam masjid, aku juga sering mendapat hadiah uang dan makanan seperti timphan, dodoi dan haluwa dari para pengunjung yang datang dari jauh. Sejak celengan disangkut di Sulu Bayung, aku memang sering menghabiskan waktu bermainku di masjid menunggu para pengunjung datang. Aku ditemani oleh kawan-kawan seusiaku seperti Majid, Juned dan Wandi. Sebenarnya teman-temanku itu juga ingin mengambil beberapa keping uang yang selalu penuh dalam celengan, tapi setiap mereka akan beraksi aku selalu menakuti mereka, bahwa tangan mereka akan bengkok kalau berani menyentuh celengan Sulu Bayung.
***