Hari-hari terus berlalu dengan cepat. Suasana di masjid kami masih ramai seperti puluhan tahun lalu. Ayahku Haji Mad Piyah sudah terlihat sangat tua. Selepas salat asar ketika kami sedang menghitung hasil sedekah dari celengan Sulu Bayung, dia mewasiatkan kepadaku jika suatu saat masjid itu direnovasi, Sulu Bayung harus tetap diselamatkan dan tidak boleh dikeluarkan dari masjid. Menurut ayahku, selain sebagai pengingat jasa kakek, Sulu Bayung juga telah memberi rezeki kepada pengurus masjid dan juga masyarakat kampung selama berpuluh-puluh tahun. Mendengar wasiat ayah, aku hanya mengangguk tanda setuju. Hanya beberapa bulan setelah berwasiat, ayahku pun meninggal dunia, tepat setelah seratus tahun Sulu Bayung tegak berdiri di masjid kami.
Kematian ayahku telah melahirkan keguncangan di kampung kami. Beberapa tokoh kampung saling berebut menjadi imam. Jika saat itu tidak segera diselesaikan oleh Apacut Beuransah, bisa-bisa sudah terjadi perang saudara akibat perebutan jabatan imam. Apacut Beuransah yang namanya tertulis di celengan Sulu Bayung merasa paling berhak berbicara setelah ayahku tiada. Dia memutuskan agar aku menjadi imam menggantikan kedudukan ayahku. Mendengar keputusan Apacut Beuransah, semua tokoh masyarakat hanya bisa mengangguk dan terdiam, sebab namanya yang tertulis di Celengan Sulu Bayung adalah bentuk otoritas yang tidak bisa dibantah. Saat diangkat sebagai imam, usiaku sudah menginjak lima puluh tahun, lebih tua dari umur kakekku ketika pertama kali ia mengangkat Sulu Bayung di pundaknya.
***
Pada suatu pagi, tepatnya selepas shalat subuh, ketika udara masih begitu dingin dan kicau burung belum terdengar, Apacut Beuransah yang di masa tuanya juga merangkap sebagai bilal masjid datang menghampiriku dari arah belakang. Saat itu jamaah lain telah pulang, tinggal kami berdua di masjid yang sudah semakin sempit.
“Begini Haji Bantayan, aku lihat semakin hari masjid kita semakin ramai saja. Jamaah terus bertambah, sebab masyarakat luar kampung juga sudah mulai menjadi jamaah tetap di masjid ini. Menurutku ini adalah bentuk karamah dari Sulu Bayung. Jadi aku pikir sudah saatnya masjid ini direnovasi. Lagi pula kita sudah punya cukup uang dari hasil celengan Sulu Bayung. Bagaimana menurutmu?”
Mendengar pertanyaan Apacut aku sedikit tepekur. Sambil menggulung sajadah aku pun menatap wajah orang tua itu. Dia memang sudah cukup tua, usianya mungkin sebaya dengan almarhum ayahku. Hanya beberapa lembar rambutnya yang masih hitam. Bahkan jenggotnya yang panjang itu telah tampak seperti kapas kering. Aku pikir orang tua ini cukup bijaksana dan patut aku pertimbangkan.
“Baik Apacut, akan kucoba bicarakan dengan pengurus masjid dan tokoh-tokoh kampung.” Mendengar jawabanku, Apacut tampak tersenyum sampai gusinya yang seperti daging pucat itu terlihat keluar.
***