Setelah dilanda kebingungan beberapa saat, akhirnya aku putuskan Sulu Bayung harus ditegakkan kembali. Tapi di luar, bukan di dalam masjid. Dan celengan yang dulunya telah disimpan Apacut kembali dipasang di batang kayu keramat itu.
Tahun-tahun pun terus berlalu. Anehnya celengan itu tak pernah lagi berisi. Tak ada lagi pengunjung yang datang. Masjidku yang megah telah berubah sepi dan bahkan orang-orang kampungku pun sudah mulai meninggalkan masjid. Aku tidak tahu, apakah Apacut telah memfitnahku, sebab dia pun tak lagi tampak di masjid? Tapi, bukankah dia yang beruntung dengan renovasi ini sebab dia menjadi pemimpin proyek? Atau aku telah durhaka kepada Sulu Bayung sebab sering menguras isi celengan?
***
Kisah itu aku baca dari catatan lusuh milik ayahku yang tersimpan dalam celengan Sulu Bayung. Aku menduga ayahku, Haji Bantayan, sengaja memasukkan catatan itu ke dalam celengan. Ayahku meninggal sepuluh tahun lalu. Aku adalah orang pertama yang membuka celengan Sulu Bayung setelah ia ditinggalkan pengunjung.
Tin Miswary, pemulung buku tua.