Sulu Bayung

Setelah bulat sepakat dengan tokoh-tokoh kampung, renovasi pun dimulai. Bangunan lama mulai dibongkar di bawah pengawasanku sendiri. Dinding masjid yang sebagiannya terbuat dari kayu dibongkar dan tembok-tembok dari beton dihancurkan. Hanya bagian depan dari masjid yang disisakan sedikit untuk tempat shalat dan akan dibongkar kemudian. Pembongkaran berlangsung cepat karena melibatkan masyarakat kampung.

Ketika pembongkaran berlangsung tiba-tiba aku ingat nasib Sulu Bayung yang terpacak di tengah bangunan masjid yang dindingnya sudah diruntuhkan. Aku pandangi tiang itu dari bawah lalu ke atas, ke atap masjid. Aku meminta pekerja untuk melepaskan celengan yang tersangkut di sana.

Sore itu Sulu Bayung yang sudah berdiri tegak selama lebih seratus tahun pun dicabut dan dipindahkan ke luar masjid. Melihat Sulu Bayung diangkat ke luar, Apacut Beuransah tiba-tiba menegurku, “Mau dibawa ke mana?” tanyanya keheranan. “Dipindahkan sebentar Apacut, nanti kalau bangunan baru sudah selesai kita pindahkan lagi ke dalam,” sahutku. Apacut hanya terdiam dengan mata tertuju pada Sulu Bayung yang sudah direbahkan di luar masjid. Aku pikir dia tidak perlu heran seperti itu, bukankah dia yang memintaku merenovasi masjid?

Esoknya, beberapa pekerja mengadu padaku bahwa mereka telah dilanda mimpi buruk dan dikejar hantu karena telah memindahkan Sulu Bayung dari tempatnya. “Tidak apa-apa,” kataku, “ini hanya sementara saja.” Protes juga datang dari para pengunjung yang kecewa melihat Sulu Bayung tergeletak tak berdaya. Sebagai pemimpin masjid tentunya aku harus siap menjawab segala pertanyaan, sebab renovasi adalah untuk kenyamanan mereka juga yang selalu mengeluh masjid sudah terlalu sempit.

***

Masjid yang dulunya setengah kayu setengah beton telah berganti dengan beton sepenuhnya. Cukup indah dan luas. Tentu aku patut berbangga sebab renovasi bersejarah ini terjadi di masa aku menjadi imam. Perasaan suka cita juga terlihat di wajah para jamaah, mereka terpesona dengan keindahan masjid yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

“Bagaimana nasib Sulu Bayung?”

Aku benar-benar terkejut dan tiba-tiba saja wasiat ayahku itu kembali terdengar. Bukankah kemegahan masjid ini berkat Sulu Bayung? Tapi, apa mungkin kayu tua itu aku masukkan ke dalam masjid yang megah ini? Tidakkah ia akan merusak keindahan masjid?

Arsip Cerpen di Indonesia