Wawancara Kerja

Dalam beberapa detik aku tak bisa mencerna jawaban itu. Bukankah itu terdengar lucu sekali? Sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konsultan membuka lowongan untuk tenaga teknik. Aku memenuhi semua syarat yang mereka berikan. Nilai tes tertulisku lumayan, semua terlihat beres, tapi aku tersandung dengan sebuah pertanyaan, “Agamamu apa?”

Hei, sejak kapan perusahaan bertanya untuk calon karyawannya tentang agama? Apa mereka juga bertanya pada calon rekanan proyek, apa agama pemilik proyek? Jika tak seiman, apa ditolak? Jikapun harus seiman, kenapa tak dari awal hal itu dicantumkan sebagai syarat? Aku ingin marah tapi tak tahu harus marah pada siapa.

Aku beijalan seperti zombi, keluar dari ruangan HRD yang seketika membuat napasku sesak. Sungguh, aku tak pernah menduga sama sekali dengan pertanyaan itu. Agamamu apa? Sepertinya aku akan kesulitan tidur dalam sepekan ke depan lantaran dihantui pertanyaan ini.

***

AKU melumskan punggung ketika pintu kaca di depanku berderit dan seorang perempuan dibalut blazer biru laut muncul. Dia menenteng clipboard. Seketika kami yang duduk rapi di ruang tunggu ini meluruskan punggung. Ini wawancara kerjaku yang kesekian, aku sampai lupa bilangan tepatnya dan sampai detik ini aku masih berstatus pengangguran.

“Putu Gede,” dia menyebut nama seseorang. Aku seketika menoleh, memandang laki-laki jangkung dengan kemeja putih dan sepatu pantofel hitam yang begitu licin sehabis disemir, berdiri dari duduknya.

Perempuan dan laki-laki itu menghilang di balik daun pintu yang tertutup kembali. Delapan orang yang tersisa, termasuk diriku, menghela napas, entah antara lega atau dibaluri cemas.

Tadi, saat kami dikumpulkan di ruangan ini, aku sempat mengajak berkenalan dengan semua pelamar yang akan diwawancarai. Beberapa terlihat memandangku dengan tatapan aneh, saat aku bertanya agamamu apa. Setelah mengetahui sebelas orang yang menjadi rivalku memiliki agama yang berbeda-beda, aku sedikit lega. Setidaknya, aku menerka, bagian HRD tidak akan melontarkan pertanyaan yang telah menggugurkanku di wawancara sebelumnya.

Namun beberapa detik setelahnya, aku justru dilanda rasa penasaran dan mulai menerka-nerka, pertanyaan apa yang akan dilontarkan di dalam sana? Jika bukan tentang agama, lantas apa?

Arsip Cerpen di Indonesia